Wednesday, March 6, 2013

Oleh : Den Baguse Solo

PLAK… Tamparan keras entah yang keberapa kali mendarat ke pipiku. Darah segar terus mengucur dari pelipis mata kananku. Aku tak bisa mengusapnya karena kedua tanganku diborgol ke belakang.

“Kamu tetap tidak mau ngaku?!!” bentak anggota kepolisian Densus 88 yang berbadan tegap dan berkacamata hitam menginterogasi aku. Sudah berapa kali aku katakan bahwa aku tak mengetahui keberadaan sahabatku, Kardi alias Qosim yang menjadi target Densus 88 karena tersangkut masalah teroris. Dia diduga perakit bom kelompok teroris Solo. Dia juga diduga tergabung dalam jaringan Harakah Sunni untuk Masyarakat Indonesia (HASMI) pimpinan Abu Ubaid.

Kardi adalah temanku dari kecil. Karena kami bertetangga dan seumuran. Dari sekolah Dasar sampai SMA kami selalu satu sekolahan. Kami sudah seperti saudara kandung sendiri. Kalau ada apa-apa kami selalu bersama. Setelah lulus SMA kami bekerja di tempat berbeda. Aku bekerja di salah satu perusahaan operator telekomunikasi selular sebagai sales, sedang dia bekerja di bengkel. Karena dia memang hobi dengan otomotif. Walau kami bekerja di tempat berbeda, setiap hari sepulang bekerja pasti kami bertemu. Entah aku yang ke rumahnya atau dia ke rumahku. Sering kalau malam kami pergi ke angkringan hanya untuk sekedar menikmati teh hangat dan makan beberapa gorengan.

“Sehari sebelum ledakan, Qosim bertemu kamu. Kamu pasti tahu dimana ia berada.”  kata polisi dengan nada yang lebih halus dibanding sebelumnya.

Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala. Bibirku terasa perih untuk mengucap karena telah banyak terkena bogem atau tamparan dari polisi.

“Aaaaaaagh…” tiba-tiba ada anggota kepolisian yang lain di belakangku yang menyulutkan rokok di telapak tanganku.

“Nggak mau ngaku..!!” bentak polisi yang menyulut rokok.

Aku memang tidak tahu keberadaannya. Sehari sebelum ledakan memang kami bertemu. Tapi, hanya ngobrol seperti biasa dan tidak menyinggung masalah bom atau teror. Setelah itu kami pulang ke rumah masing-masing.

“Sudah cukup. Kita kasih waktu dia dulu untuk mengembalikan energinya.” kata polisi yang berkacamata hitam.

Polisi yang berada di belakangku menjambak rambutku dan menarik ke atas agar kepalaku tegak. Dia memandangku dengan sorot mata yang garang kemudian melepaskan genggamannya yang membuat kepalaku kembali tertunduk. Kemudian dia meninggalkan ruangan interogasi bersama polisi yang berkacamata hitam tadi.

Kenapa ini semua terjadi? Kenapa si Kardi yang dulu jarang sholat itu menempuh jalan seperti ini? Jalan menuju syurga, katanya. Dia dulu pernah mengajakku untuk bergabung dengan jamaah pengajiaannya di masjid Baitul Makmur. Tapi, aku hanya ikut tiga kali pengajian karena tidak cocok dengan apa yang disampaikan ustadznya. Lama kelamaan materi pengajian mengarah ke peperangan atau jihad. Ketika mengikuti pengajian seakan-akan dunia ini dalam keadaan genting, darurat. Tapi ketika selesai pengajian dan berada di lingkungan, sangat berbeda dengan apa yang disampaikan. Suasana sangat tenang. Masyarakat hidup damai. Tidak ada konflik. Ahh.. kemudian aku putuskan tidak mengikuti pengajian.

“Mau sholat apa ndak mas?” tanya seorang anggota polisi yang baru saja masuk.

Aku geleng-geleng kepala. Tak mungkin aku sholat dalam keadaan lemah begini. Tuhan Maha Tahu dan Pengampun. Masih kurasakan perih dibibir ini. Entah bagaimana bentuk bibirku sekarang. Seperti bibirnya om Tukul atau bibir onta. Yang jelas aku merasakan bibirku lebam atau abuh.

Kemudian polisi itu keluar dari ruangan meninggalkan aku sendiri. Ternyata masih ada polisi yang saleh yang mengingatkan untuk sholat. Batinku. Semoga saja ada polisi yang juga mengingatkan temannya untuk tidak korupsi.

“Polisi itu kafir.. karena menjadi alat dari pemerintahan yang kafir. Tidak berhukum pada hukum Allah. Malah berhukum pada produk orang Belanda yang jelas-jelas kafir. Kalau kafir berarti halal darahnya..” kata Kardi ketika berdebat denganku masalah demokrasi di Indonesia kira-kira sebulan yang lalu.

Aku pun menjawab dengan argumenku yang tentunya bertentangan dengan argumen Kardi. Sampai akhirnya aku menjawab.

“Kalau kamu menganggap pemerintah ini kafir kenapa kamu mau hidup di negara kafir? Ndak ngungsi aja ke Arab Saudi sana. Jadi TKI juga ndak masalah.. hahaha..”

Kardi hanya diam lalu ngeloyor pergi. Ia memang selalu begitu. Kalau sudah tidak sepakat ya pergi daripada dilanjutkan, bisa-bisa kami bertengkar.

“Ngeeek….” kudengar suara pintu terbuka. Oh, mereka sudah kembali lagi. Mau mengintrogasiku lagi mungkin.

“Kamu kenal orang ini?” Tanya polisi yang menyulutkan rokoknya ke telapakku tadi sambil menyodorkan foto ustadz Hanafi. Ustadz yang biasa mengisi pengajian di masjid Baitul Makmur.

Aku mengangguk pelan-pelan, kemudian menggeleng. Maksudku aku tahu dia tapi tidak begitu kenal.

“U..uustadz Haa..n..naafi..”

“Dia juga buron. Seminggu sebelum peristiwa bom di Mall kemarin dia tidak mengisi pengajian di masjid Baitul Makmur. Dia diduga sebagai pelatih pelatihan militer dan si Qosim yang mengajari perakitan bom yang berada di Gunung Wilis, Madiun.”  terang polisi.

Ustadz Hanafi memang pernah berada di Afganistan untuk belajar teknik peperangan. Kalau ia di Indonesia melatih peperangan aku sudah ndak kaget.

“Qosim hoby otomotif. Dari hobinya itu ia dengan mudah merancang bahan peledak. Dengan bantuan internet ia mengembangkan bakatnya membuat bom. Sedang bahan-bahan kimia yang membeli adalah Yance alias Pitik alias Toyib.”

“Toyib sudah tewas dalam penggerebekan dikontrakannya tadi pagi.” lanjut polisi tadi.

“Sekarang. Setelah kami selidiki secara mendetail, kamu tidak ada keterlibatannya dalam jaringan ini. Kami bebaskan. Dengan catatan bila mengetahui keberadaan Qosim segera beritahu kami.”

Alhamdulillah, Yaa Allah.. Akhirnya, aku bisa keluar dari neraka ini..sudah semalam-sehari aku diinterogassi dan mengalami siksaan-siksaan kecil untuk mengorek keterangan dariku. Untuk mengetahui keberadaan sahabatku, Kardi yang aku sendiri tak tahu dimana ia sekarang.

Setelah itu aku diserahkan kepada seorang pegawai kepolisian lainnya untuk dirawat luka-lukaku. Setelah itu, aku diperbolehkan pulang. Untung waktu sudah malam hari. Jadi, tak akan banyak yang melihatku.
******
Sudah lima hari ini aku tak keluar rumah. Selain kondisi fisikku yang belum baik, aku sudah tidak bekerja lagi sebagai sales. Aku sudah dikeluarkan setelah mereka tahu aku ditangkap polisi Densus 88 saat kembali ke kantor sore hari setelah bom meledak.

Aku heran. Mengapa polisi begitu sigap, tanggap dan cepat dalam menangkap para terduga teroris. Sedang mereka terkesan lamban dalam menangkap para terduga koruptor. Padahal sama-sama bahayanya. Kalau teroris bisa merusak ketentraman masyarakat sedang koruptor merusak kesejahteraan masyarakat.

If I let you go I will never know what's my life would be……” itu bukan suara lagu MP3 Westlife. Tapi nada dering handphoneku. Lagu itu mempunyai kenangan tersendiri bagiku. Siapa yang telpon subuh-subuh gini? Tak ada nomor. Orang iseng kah?

Aku angkat.
“Halo” sapaku.
“Sim, ini aku Kardi.”

Kaget bukan kepalang, orang yang menjadi buronan Polisi, sahabatku yang menelepon. Aku masih ndak percaya. Ada apa ia menelepon. Haruskah aku beritahu polisi jika aku tahu dimana ia sekarang.

“Nanti sore jam 3 aku tunggu kamu di tempat pertama kali kita jatuh cinta pada cewek yang sama. Penting. Wassalamu’alaikum.”

Kardi langsung menutup teleponnya. Aku mau telpon balik, tapi dia menghubungi aku pake private number. Tempat pertama kali jatuh cinta pada cewek yang sama?

Stadion Manahan. Ya, di stadion. Waktu itu kami menonton pertandingan Persis Solo melawan PSIS Semarang. Di tribun timur, B7. Kami memang suka menonton pertandingan sepakbola di stadion. Terlebih jika ada pertandingan klub-klub besar yang bertanding di Manahan. Dalam setiap pertandingan pasti ada yang jualan asongan ke tribun. Erni, salah satu penjualnya. Ia berjualan arem-arem, tahu, rokok bersama kedua orang tuanya. Kalau tidak ada pertandingan mereka jualan nasi kucing di timur stadion Manahan. Erni, gadis berumur 16 tahun sama seperti kami. Masih duduk di bangku SMA. Ia berparas manis. Rambut panjang dan lurus. Pantas saja kalau aku dan Kardi ingin merebut hatinya. Setelah itu, kami sering mampir ke angkringan HIKnya sepulang kerja. Tapi, setelah lulus SMA dia dijodohkan oleh orangtuanya. Tentu saja kami patah hati. Hehe..

Lalu kenapa Kardi memilih ketemu di stadion? Ternyata nanti sore ada pertandingan big match antara Persija Jakarta dan Arema Indonesia. Persija memakai stadion Manahan sebagai kandang karena stadion Gelora Bung Karno untuk sementara tidak diperbolehkan dipakai untuk pertandingan sepakbola. Selain itu, Kardi ingin pertemuan ini tidak dicurigai dan diketahui orang. Karena pasti di stadion banyak orang. Jadi, kedatangan Kardi sebagai buron teroris tidak akan diketahui. Pintar juga sahabatku ini.

*****
Waktu menunjukkan pukul 13.30 WIB. Saatnya aku bersiap-siap menuju stadion dengan memakai atribut Pasoepati lengkap.

Suasana stadion sangat rame dengan supporter-suporter dari dua kesebelasan ditambah supporter tuan rumah, Pasoepati. Suara genderang dan terompet membahana diluar stadion dan di dalam stadion.
Aku beli tiket di depan tribun B7. Kemudian aku langsung masuk. Kulihat di dalam sudah penuh dengan supporter. Biasanya di tribun B7 untuk supporter tuan rumah alias Pasoepati bila ada laga dari klub luar yang bermain di Solo.aku nyari tempat duduk yang dulu aku sama Kardi nonton bareng. Ya, disitu aku lihat belum ada yang duduk. Aku langsung duduk disitu dan kulihat orang sampingku juga memakai atribut Pasoepati lengkap dengan syal dan topi. Tapi, ia memakai kacamata hitam.

“Stt.. ini aku, Sim. Kardi.” Bisik orang yang duduk disampingku.

Langsung aku peluk begitu mengetahui bahwa yang duduk disampingku benar-benar Kardi.

“Sudah..jangan lebay gitu. Lepasin. Dicurigai orang ntar dikira kita homo..” Lanjut Kardi
Aku pun melepaskan dekapanku.

“Kemana aja kamu. Orangtua kamu khawatir.” Tanyaku bisik.

“Oleh karena itu aku ketemu kamu disini. Ini aku titip surat buat bapak ibu. Intinya aku baik-baik saja. Ibu jangan khawatir. Kalau aku dating ke rumah pasti disana dijaga aparat.” Kardi menjelaskan alasannya ketemu aku.

“Kenapa kamu tidak menyerahkan diri saja, Di..” bujukku.

DOORRR…. Terdengar suara tembakan dari arah atas tribun kami. Kardi merintih kesakitan. Ternyata sasaran tembaknya adalah Kardi. Ia terkena tembakan di sebelah kanan punggungnya. Orang-orang pada lari ketakukan. Ada yang tiarap dan aku pun juga tiarap. Aku lihat Kardi membalikkan badan dan kemudian mengeluarkan senjata dari balik kaosnya. Ia menembak ke arah tembakan tadi dan kena. Tapi, dari arah bawah tribun telah banyak aparat kepolisian dari Densus 88 yang siap membidikkan tembakan. Salah satu dari mereka menembak Kardi.

DOORR..DOOR.. dua kali tembakan. Dan si Kardi pun jatuh tak berdaya bersimbah darah. Aparat mulai mendekat ke arah Kardi. Aku lihat dia sudah tidak bernafas lagi.

“Aku ingin mati syahid.” Kata kardi ketika kami kongkow di angkringan depan rumah kami.

“Mati syahid yang gimana? Kan banyak macamnya? Mati tenggelam, mati kerubuhan, mati karena sakit perut, mati karena melahirkan. Semua mati syahid” jawabku. Walau aku sudah tahu yang dimaksud Kardi adalah mati dalam peperangan.

“Ya mati dalam rangka membela agama Allah, to.. ”

Oh, Kardi sahabatku. Ia meninggalkan dunia ini di depan mataku dengan cara yang tragis. Ya Allah. Semoga Engkau mengampuni dosa-dosanya.

“Sim, al-Qur’an sendiri bilang bahwa orang Nasrani dan Yahudi tidak akan rela terhadap Islam.. Ngapain kita kerjasama dengan mereka. Malah mau diperbudak mereka. Jadi bawahan.” Komentar Kardi ketika aku diterima kerja di kantor operator selular yang memang bos nya adalah non-muslim. Aku hanya berpegang pada seorang ulama’ yang mengatakan bahwa al-jihadu fil ‘ashril hadist laisa huwa an namuta fi sabilillah. Bal an nahya fi sabilillah. Jihad dizaman modern adalah bukan kita mati dijalan Allah. akan tetapi hidup bersama-sama di jalan Allah.

Aparat kemudian membawa jasad Kardi alias Qosim, sahabatku yang menjadi buron densus 88. Suara genderang drum dan terompet di stadion yang semula bersahut-sahutan menjadi hening. Sepi… Ternyata aku dibebaskan oleh polisi untuk mengetahui keberadaan Kardi. Dan semenjak itu, aku selalu di pantau. Sampai aku bertemu si Kardi dan ia menghembuskan nafas terakhirnya. Selamat jalan sahabatku….

Bajul kesupen, 7 Maret 2013

Reactions:

0 comments:

Post a Comment

www.iwanhafidz.com

Categories

There was an error in this gadget

Followers

Total Pageviews

KOMEN

www.iwanhafidz.com

Berfikirlah..
Terhadap jawaban yang kita temukan itu RAGUKANLAH..Dan berfikirlah seluas-luasnya...
Kebenaran tidak akan pernah merendahkan atau menghinakan orang yang mencapainya. Namun justru mengagungkan dan menghormatinya...

Sukai Halaman ini

Beli Buku Online

Toko Buku Online Belbuk.com

Tweet

Popular Posts

Komen Via FB