Thursday, September 14, 2017

Pada zaman yang semakin modern dan perkembangan teknologi semakin cepat ini kita harus bisa menggunakan teknologi dengan sebaik-baiknya dan bermanfaat untuk diri sendiri maupun orang lain. Bukan sebaliknya, menggunakan kemajuan teknologi untuk berbuat kemaksiatan, menyakiti atau memusuhi orang lain. Teknologi ibarat pisau. Apabila ia dipegang orang yang benar, pisau akan bermanfaat. Sebaliknya, jika pisau dipegang orang yang salah atau bermasalah, pisau akan disalahgunakan untuk melukai atau bahkan membunuh. Begitu juga teknologi.

Diantara  kemajuan teknologi adalah adanya media sosial yang peminatnya semakin menjamur seperti facebook, twitter, instagram, juga aplikasi chatting dari handphone seperti BBM, whatsapp, telegram dan lain sebagainya. Jika kemajuan teknologi tersebut bisa digunakan dengan benar maka akan memudahkan orang saling silaturahmi, tegur sapa tanpa mengenal jarak dan waktu. Akan tetapi, kemajuan media sosial tersebut bisa juga disalahgunakan dengan membuat teror, menghujat, membenci, menebar berita bohong (hoax) maupun memfitnah.

Akhir-akhir ini, kita banyak menerima informasi dari media sosial yang belum jelas kebenarannya. Kita harus hati-hati mensikapi hal tersebut. Karena informasi yang belum jelas benar atau tidaknya bisa berujung pada fitnah. Na’udzubillah min dzalik.

Hoax (dibaca : Hoks) berasal dari bahasa Inggris yang artinya tipuan, menipu, berita bohong, berita palsu dan kabar burung. Jadi, hoax dapat diartikan sebagai ketidakbenaran suatu informasi. Menurut Wikipedia, Hoax merupakan sebuah pemberitaan palsu yakni sebuah usaha untuk menipu atau mengakali pembaca dan pendengarnya agar mempercayai sesuatu. Biasanya seorang yang menyebarkan berita hoax secara sadar melakukan suatu kebohongan dan menyebarkan informasi yang tidak benar. Hal ini bertujuan menggiring opini dan kemudian membentuk persepsi terhadap suatu informasi.

Fitnah artinya mengabarkan kebohongan tentang aib orang atau sekelompok orang kepada orang lain dengan tujuan untuk menjatuhkan kehormatannya. Menuduh seseorang melakukan sesuatu yang buruk tanpa dasar dengan tujuan mencelakakan atau menjatuhkan kehormatannya merupakan akhlak yang buruk dalam Islam. Orang Islam harus berusaha menghindari perbuatan tersebut karena dalam agama Islam perbuatan fitnah digolongkan sebagai dosa besar yang sangat dibenci oleh Allah SWT. Betapa besar akibat yang ditimbulkan oleh fitnah hingga karena fitnah, orang bisa celaka bahkan bisa terjadi saling membunuh.

Dalam upaya mencegah perbuatan menyebarkan fitnah, lebih dulu perlu diketahui sumber fitnah itu sendiri. Fitnah itu dapat terjadi diantaranya karena hal-hal sebagai berikut :

a.      Penyakit hati seperti syirik, angkuh, dengki, dan kikir.
b.      Ucapan yang salah atau menyimpang dari yang sebenarnya.
c.      Kebodohan, sebagaimana hadits Nabi Muhammad SAW, yang artinya, "Bahwa fitnah itu juga dapat timbul karena kebodohan merajalela, ilmu telah tercabut, dan banyak kekacauan serta pembunuhan." (HR Bukhari dan Muslim)

Terhadap orang yang suka menyebar fitnah, kita sebaiknya melakukan hal-hal berikut :

a.      Jangan cepat-cepat percaya pada ucapan orang itu. Sebaiknya ucapan itu di cek kebenarannya (tabayun/klarifikasi).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang Fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS: Al-Hujurat: 6)
b.      Memberi nasihat dengan bijaksana bahwa menyebar fitnah itu termasuk perbuatan yang dibenci oleh Allah SWT dan fitnah itu termasuk dosa yang besar yang akan mendatangkan bencana, baik bagi yang memfitnah maupun yang difitnah.
c.      Jangan menyiarkan berita (fitnah) yang telah kita terima dari orang lain, karena kalau dilakukan berarti kita ikut melakukan fitnah yang dilarang oleh Allah dan berdosa.
d.      Jangan berprasangka buruk terhadap orang yang difitnah.

Lalu bagaimana sikap kita dalam menghadapi zaman penuh fitnah? Diantara sikap yang dapat menyelamatkan seorang muslim dari fitnah adalah memperbanyak amal sholeh. Sebagaimana yang telah diajarkan Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wa sallam-:
 
قَالَ رَسُولَ اللَّهِ : بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنْ الدُّنْيَا . رواه مسلم
Rasulullah bersabda, “ Bersegeralah kalian mengerjakan amal-amal shalih sebelum terjadi fitnah (bencana) yang menyerupai kepingan-kepingan malam yang gelap gulita, yaitu seseorang diwaktu pagi beriman tapi pada waktu sore ia telah kafir, atau pada waktu sore ia beriman dan pada pagi harinya ia telah kafir, ia rela menjual agamanya dengan secuil keuntungan dunia.” (Shahih Muslim, no 118)

Imam an-Nawawi berkata: “Maksud hadits di atas adalah Rasulullah rmenganjurkan kita agar segera beramal shalih sebelum kita tidak mampu melakukannya lagi dan sebelum kita dilalaikan oleh fitnah yang banyak dan menumpuk satu sama lain, seperti kegelapan malam yang gelap gulita dan saling tindih menindih.” (Kitab Syarah Shahih Muslim II/114-115)

Amal shalih yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah amal yang harus memenuhi dua kriteria yaitu ikhlash dan mutaba’ah (mengikuti contoh Rasulullah).

Fitnah yang diwanti-wanti oleh Rasulullah dalam hadits di atas tidak disebutkan secara khusus. Rasulullah menyebutkannya secara umum (nakirah). Maksudnya meliputi segala bentuk fitnah, baik itu fitnah syubhat (bencana akibat prinsip atau pemikiran yang menyimpang) maupun fitnah syahwat (bencana akibat mempertuhankan hawa nafsu).

Fitnah syubhat adalah setiap fitnah yang bersumber dari kebodohan, ketidakpahaman tentang al-Qur-an dan al-Hadits, sehingga maknanya salah dipahami dan ditafsirkan secara keliru. Sedangkan fitnah syahwat adalah fitnah yang muncul karena keinginan untuk mendapat kenikmatan duniawi berupa harta, kedudukan, kepemimpinan dan wanita. (Syarh Riyadhis Shalihin, di bab al-Mubadarah ilal Khairat, karya Syaikh al-’Utsaimin).

Al Imam Ibnu Qayim Al Jauziyyah rahimahullah berkata:
“Fitnah itu dua macam: fitnah syubhat dan fitnah syahwat. Fitnah syubhat lebih besar bahayanya dari yang kedua. Maka fitnah syubhat ini terjadi disebabkan lemahnya bashirah dan sedikitnya ilmu.”

Saking berbahayanya fitnah ini, Rasulullah menggambarkannya seperti malam yang gelap gulita. Dimana orang yang tertimpa fitnah ini akan merasa bingung, tidak tahu harus melangkah kemana. 

Syaikh al-Mubarakfuri berkata: “Sabda Rasulullah, ‘pada waktu sore ia telah kafir’, maknanya bisa menjadi kafir (keluar dari Islam) atau kufur nikmat (mengingkari kenikmatan) atau menyerupai orang kafir atau melakukan amalan orang-orang kafir.” al-Hasan al-Bashri menafsirkan, “maksudnya: pada pagi hari ia mengharamkan apa yang diharamkan Allah dan pada sore harinya ia menghalalkan hal tersebut.” (Tuhfatul Ahwadzi:6/364).

Bagaimana hal ini bisa terjadi? Karena, ambisi manusia untuk memperoleh dunia. Sehingga dengan cara apapun ia lakukan. Termasuk dengan menjual agama(nya).

Rasulullah menjelaskan:
يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنْ الدُّنْيَا

Ia rela menjual agamanya dengan secuil keuntungan duniawi.”

Oleh karena itu, salah satu upaya kita agar selamat dari fitnah adalah dengan amal shalih. Amal shalih adalah melakukan pekerjaan baik yang bermanfaat bagi diri sendiri dan bagi orang lain serta ikhlas karena Allah Swt semata. Amal shalih termasuk perintah Allah karena dengan beramal shalih maka akan tercipta kehidupan yang tentram dan bahagia. Amal shalih adalah perbuatan atau sikap yang harus dimiliki oleh setiap muslim sebab orang yang beramal shalih akan menjadi penghuni surga serta kekal didalamnya. Sebagaimana firman Allah :

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
Artinya : “Dan orang-orang yang beriman serta beramal shalih, mereka itu penghuni surga. Mereka kekal di dalamnya”. (QS Al-Baqarah : 82)

Selain dengan amal shalih sikap kita agar selamat dari fitnah adalah memperdalam ilmu agama, membentengi diri dengan iman, memperbanyak doa dan bersabar, tabayun (klarifikasi) dalam menerima berita/informasi, juga mendekati ulama. 

Jika fitnah diibaratkan oleh Nabi seperti kegelapan malam, maka ulama ibarat lentera-lentera tatkala manusia dalam kegelapan. Barang siapa yang mengambil pelita ini niscaya akan dapat menerangi dirinya dalam menempuh perjalanan menuju negeri akhirat. Sebaliknya yang menjauh dari mereka bagaikan si buta yang berjalan terseok-seok dalam kegelapan malam tanpa pemandu, di jalan yang terjal dan berbatu.

Lalu, ulama yang bagaimana yang harus kita ikuti? Apalagi pada zaman sekarang bermunculan orang yang berpenampilan ulama tetapi perilaku maupun mauidhohnya tidak sesuai dengan sifat ulama. 

Dalam sebuah hadits Nabi SAW yang dikutip oleh Imam Ghozali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin. Rasulullah SAW bersabda:

لاَ تَجْلِسُوْا عِنْدَ كُلِّ عَالِمٍ إِلاَّ عَالِمٍ يَدْعُوْكُمْ مِنَ اْلخَمْسِ إِلَى اْلخَمْسِ، مِنَ الشَّكِّ إِلَى اْليَقِيْنِ، وَمِنَ اْلكِبْرِ إِلَى التَّوَاضُعِ، وَمِنَ اْلعَدَاوَةِ إِلىَ النَّصِيْحَةِ، وَمِنَ الِّريَاءِ إِلَى اْلِإخْلَاصِ، وَمِنَ الَّرغْبَةِ إِلَى الزُّهْدِ

Artinya: "Janganlah kamu duduk (belajar) kepada setiap orang alim, kecuali orang alim yang mengajak kalian dari lima hal menuju lima hal yang lain: Pertama, dari keragu-raguan menuju keyakinan. Kedua, dari kesombongan menuju ketawadhu'an. Ketiga, dari permusuhan menuju perdamaian. Keempat, dari riya menuju ikhlas, dan kelima, dari ketamakan menuju zuhud (HR Ibnu 'Asyakir dari Jabir RA)

Selain itu, ulama yang baik adalah ulama yang perkataannya bisa menyejukkan dan mendamaikan sehingga ketika umat mendatangi beliau, segala masalah bisa selesai dengan baik. Seperti yang disampaikan oleh Ibnu Al-Qayyim mendatangi gurunya, Ibnu Taimiyah.

وكنا إذا إشتد بنا الخوف وساءت منا الظنون وضاقت بنا الأرض أتيناه فما هو إلا أن نراه ونسمع كلامه فيذهب ذلك كله عنا

Artinya: “Jika kami dalam kondisi takut yang sangat mencemaskan, dengan berbagai prasangka buruk dan dunia menjadi sempit, kami segera mendatangi beliau (IbnuTaimiyah) baru saja melihatnya dan mendengarkan perkataannya, seketika hilanglah segala beban dan derita yang kami rasakan.



Wednesday, August 23, 2017

✏ Allah berfirman, " Demi fajar, dan malam yang sepuluh, dan yang genap dan yang ganjil, dan malam bila berlalu. Pada yang demikian itu terdapat sumpah (yang dapat diterima) oleh orang-orang yang berakal." (QS. Al-Fajr 1-5)
Ibnu Abbas berpendapat bahwa yang dimaksud dengan "al-fajr" adalah shalat Subuh, dan "malam yang sepuluh" adalah tanggal satu sampai sepuluh Dzulhijjah, dan "yang genap" adalah segenap makhluk, dan "yang ganjil" adalah Allah dan "malam yang berlalu" adalah bila ia telah lewat, "pada demikian itu terdapat sumpah oleh orang-orang yang berakal", artinya, hal itu merupakan sumpah bagi orang yang mempunyai hati dan akal. Jawaban untuk sumpah ini adalah firman-Nya, "Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi."

✏ Muqotil berpendapat, yang dimaksud dengan fajar adalah pagi hari nahar (tanggal sepuluh Dzulhijjah) "dan malam yang sepuluh" adalah sepuluh malam sebelum hari raya idul Adha. Allah menamainya "layal 'asyr" (malam yang sepuluh) karena terdiri dari sembilan hari sepuluh malam. Sedang yang dimaksud dengan "yang genap" adalah Adam dan Hawa, "dan yang ganjil" adalah Allah Swt. "dan malam bila berlalu" maksudnya bila datang waktu malam, yakni malam Idul Adha.

✏ Mujahid berpendapat, bahwa yang dimaksud dengan "fajr" dalam ayat ini adalah khusus pada hari raya kurban saja. Sementara Jarir bin Abdillah meriwayatkan bahwa Nabi bersabda, " Malam yang sepuluh adalah tanggal sepuluh hari raya Idul Adha". Dalam salah satu riwayat yang lain dari Ibnu Abbas dikatakan bahwa yang dimaksud "malam yang sepuluh" adalah sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.

✏ Dalam ayat ini Allah bersumpah dengan malam sepuluh Dzulhijjah. Ada apa dengan sepuluh Dzulhijjah? Insya Allah kita bahas besok.

📠Tim Ngaji Bareng Kang Iwan 📚
facebook = http://www.facebook.com/ngajibarengkangiwan
website= http://www.iwanhafidz.com


Tuesday, August 22, 2017

 Masuknya manusia ke neraka disebabkan oleh kekufurannya, sedangkan siksaan yang berlipat ganda dan perbedaan tingkatan neraka yang ditempatinya berdasarkan pada akhlak dan perbuatan buruk yang dilakukannya. Sedangkan masuknya manusia ke syurga disebabkan oleh keimanannya, dan kenikmatan yang berlipat ganda serta perbedaan tingkatan syurga yang ditempatinya didasarkan pada akhlak dan amal baik yang dilakukannya.

 Allah menciptakan syurga lalu memenuhinya dengan berbagai kenikmatan yang tiada tara sebagai balasan bagi para penghuninya. Sedangkan Dia menciptakan neraka, lalu memenuhinya dengan siksaan yang tiada tara beratnya sebagai balasan bagi para penghuninya.

Sementara itu, Allah menciptakan dunia, lalu mengisinya dengan kenikmatan dan penderitaan adalah sebagai bentuk ujian dan cobaan bagi hamba-hamba-Nya. Kenikmatan dunia dan kelezatannya merupakan gambaran kecil tentang kenikmatan syurga dan kelezatannya. Bedanya, kenikmatan dan kebahagiaan di akherat tiada tara, tidak pernah terlihat oleh mata, terdengar oleh telinga, atau terlintas dalam pikiran manusia.

Kenikmatan di akherat yang kita baca dalam al-Qur'an dan hadits hanyalah sebuah ilustrasi yang sangat terbatas, bukan gambaran sesungguhnya tentang keadaan yang menyeluruh. Begitu pula halnya dengan penderitaan dan siksa di dunia. Ini juga hanya sebagai contoh semata. Sebab penderitaan dan siksaan di neraka jauh lebih berat dari yang ada di dunia, dan kita semua tidak mungkin bisa membayangkan beratnya siksaan di neraka.

Monday, August 21, 2017

Taqwa dan Cara Meraihnya


  Allah berfirman, "Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa diantara kalian." (QS. Al-Hujurat:12)

Secara garis besar taqwa adalah menjalankan perintah dan menjauhi larangan. Para sahabat dan ulama berbeda pandangan tentang makna taqwa. Ibnu Abbas mengatakan bahwa taqwa adalah menjauhi kemusyrikan, dosa besar dan perbuatan yang keji.

Suatu hari Umar bin khatthab berkata kepada Ka'ab al-Ahbar, "Ceritakan padaku tentang Taqwa?" Ka'ab berkata, "Pernahkan kamu berjalan di atas jalan yang berduri?" Umar menjawab, "Pernah." Ka'ab bertanya lagi, "Lalu apa yang kamu lakukan?" Umar menjawab, "Aku melangkah dengan sangat hati-hati." Ka'ab berkata, "Seperti itulah taqwa."

Sebelum meraih ketaqwaan, ada beberapa jalan yang harus ditempuh. Pertama-tama adalah membebaskan diri dari segala bentuk kedzaliman terhadap sesama dan memenuhi hak-hak mereka. Lalu meninggalkan segala bentuk maksiat dan dosa, baik besar maupun kecil. Selanjutnya menyibukkan diri dengan meninggalkan berbagai penyakit hati yang merupakan induk dari segala penyakit seperti riya', sombong, angkuh, munafik, cinta dunia, rakus, tamak, takut kepada makhluk,dll. Semua penyakit ini mampu dihilangkan dengan menentang hawa nafsu, menyibukkan diri dengan meninggalkan keinginan.

Tim Ngaji Bareng Kang Iwan 📚
facebook = http://www.facebook.com/ngajibarengkangiwan


Perkataan Ulama tentang Tobat

Ada tiga macam tobat : Taubah, Inabah dan Awbah. Taubah adalah taubatnya orang yang takut pada hukuman Allah. Inabah adalah tobatnya orang yang mengharapkan pahala atau karena takut pada siksaNya. Sedang awbah adalah tobatnya orang yang mencari keridhaan Allah semata, bukan lantaran mengharap pahala ataupun takut mendapat siksa.

Taubah adalah sifat orang beriman, inabah adalah sifat para wali Allah dan awbah adalah sifat para nabi dan rasul.

Al-Junaid mengatakan bahwa taubat memiliki tiga makna, pertama merasa menyesal, kedua bertekad untuk tidak mengulangi perbuatan yang dilarang Allah dan ketiga berusaha untuk mengembalikan hak orang yang pernah diambilnya dan meminta maaf pada mereka.

Dzun Nun al-Misri mengatakan tobatnya orang awam adalah dari dosa, sedang tobatnya orang al-khawas adalah dari lalai mengingat Allah. Beliau juga mengatakan, bahwa istighfar yang tidak diiringi dengan menjauhkan diri dari dosa adalah tobatnya para pembohong.

Sunday, August 13, 2017

Mangga ing siyang menika kita sedaya tansah ningkataken iman saha ketaqwaan kita sedaya dhateng Allah Swt kanti nglampahi perkawis ingkang dipun perintah uga nebihi awisan-awisanipun Allah. Boten kesupen kita sedaya syukur ingkang inggil semukawis rahmat uga nikmat ingkang sampun dipun paringaken Allah dhateng kita sedaya. Utaminipun ing wulan menika kita sedaya gadah kenikmatan ingkang ageng inggih punika nikmat kemerdekaan .

Kemerdekaan menika nikmat ingkang ageng sanget ingkang dipun paringaken Allah dhateng negeri kita. Amargi kanti wontenipun kemerdekaan, kita sedaya tasih saged ngraosaken hawa ingkang sekeca ngantos kala menika. Saumpaminipun dereng merdeka, duka napa kita sedaya tasih gesang utawi sampun pejah kenging granat utawi senjata para penjajah. Kanti kemerdekaan ugi kita sedaya saged nindakaken ibadah kanti tenang, khusyuk tanpa raos kuwatos badhe wontenipun bombardier saking pesawatipun penjajah. Kanti kemerdekaan ugi kita sedaya saged kempal kaliyan keluarga, kaliyan garwo utawi lare-lare kita. Estu, kemerdekaan menika nikmat ingkang ageng sanget ingkang dipun paringaken Allah dhateng negeri kita sedaya.  Kemerdekaan meniko sanes  paweweh saking Londo utawi Jepang  .

Wonten kisah, ratu persia ingkang gadhah asma Ratu Kisra Anussyirwan numindakake observasi teng griya-griya wargi keratonipun. Nalika piyambakipun dugi ing satunggal griya, ing mrika piyambakipun manggih tiyang sepuh ingkang nanem wit ing halaman griyanipun. Ratu gemujeng nuli tangklet, "Hai eyang kakung, punapa sampeyan nanem setunggal wit ingkang bakal wuh 10-20 taun melih, mbokmenawi sampeyan taun ngajeng sampun pejah uga sampeyan mboten saged menikmati woh-wohan saking wit ingkang sampun sampeyan tanem?". kaliyan mesem eyang kakung mangsuli, "He ratu, laqad gharasa man qablanâ fa akalnâ tiyang-tiyang sadereng kita sedaya sampun nanem wit uga woh-wohan, lajeng saking wit menika kita sedaya saget nikmati sakmenika wa naghrisu nahnu liya’kula man ba‘danâ, uga kita sedaya nanem wit ingkang woh-wohane bakal dipun nikmati dening tiyang-tiyang saksampune kita sedaya". 

Saking kisah wau kita sedaya saged mendhet setunggal piwucal menawi kemerdekaan ibarat setunggal wit ingkang sampun dipun tanem dening para pejuang bangsa punika senahoso piyambake sedaya mboten nate ngraosaken kemerdekaan menika.

Menawi kita sedaya sampun dipun paringi setunggal wit, menapa ingkang badhe kita sedaya tumindakaken? Napa kita ngejaraken wit menika garing ingkang akhiripun pejah? Napa kita sedaya badhe ngramut wit menika supados berkembang lan medal wohipun? Tentu, kita sedaya badhe ngramut wit menika. Kados pundi kita sedaya ngramut wit kemerdekaan punika supados saget berkembang uga ngasilaken woh ingkang sae?

Allah swt ngendikakaen wonten surat Al Hajj ayat 41:

ٱلَّذِينَ إِن مَّكَّنَّٰهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ أَقَامُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَوُاْ ٱلزَّكَوٰةَ وَأَمَرُواْ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَنَهَوۡاْ عَنِ ٱلۡمُنكَرِۗ وَلِلَّهِ عَٰقِبَةُ ٱلۡأُمُورِ ٤١ 

Artosipun : “(yaiku) wong-wong sing nek kita kukuhake kedudukane neng duwur bumi niscaya dekne kabeh nglakoni sholat, ngawehake zakat, ngongkon penggawe apik (ma’ruf) lan nyegah saka panggawe sing mungkar lan marang Allah bali sekabehe urusan.”

Kalimat “Kita kukuhaken kedudukane ing duwur bumi” saget dipun artosaken bentuk kemerdekaan saking penjajahan. Wonten sekawan perkawis ingkang kedah dipun wontenaken kagem ngisi kemerdekaan punika:

Setunggal, iqamatus shalah, njumenengaken ibadah sholat supados saget ngasilaken moral ingkang sae utawi akhlakul karimah.

Bangsa lan negara saged langgeng kala nggadahi moralitas uga kredibilitas ingkang inggil. Supados nggadahi moralitas ingkang sae dipun milai saking ibadah sholat, uga keta’atan dhumateng Allah swt. sami kaliyan dawuh Allah swt. ”Saktemene sholat biso nyegah saka penggawe keji lan munkar”. Qs. Al-Ankabut : 45.

Sholat ugi dados barometer, ukuran, sukses mbotenipun tiyang ing akherat mangkeh, amargi ingkang pertama kali badhe dihisab saking menungso inggih punika masalah sholat. menawi sholatipun sae, otomatis sedaya amalan ingkang sanes badhe dipun raos sae, sewalikipun menawi kwalitas sholatipun awon, mila sedaya pandamelipun dipun anggep awon. sholat ugi dados perintah ingkang wonten ing akhir hayatipun Rasulullah wasiat dateng umatipun, Rasulullah ngendikan: ash shalah… ash shalah.

Ayat punika ugi ngginakaken kalimat jama’ “aqamush shalah” ingkang artosipun kathah, yaiku sholat dipun wontenaken kanthi jama’ah ing masjid. Sholat berjama’ah ing masjid ugi dados syi’ar uga kekiyatan umat Islam. Mila, kanti nindaaken sholat ingkang berkualitas saget mbentuk moral ingkang sae.

Kaping kalih, iitauz zakah, ngedalaken zakat meniko dados bentuk kepradulen sosial.
Agami Islam boten namung ngurusi masalah ruhani lan akherat kemawon, nanging ugi merhatosaken sanget keseimbangan sosial masyarakat. punika dipun yektosaken kaliyan anjuran wonten ing al-Qur’an, penyebutan sholat dipun iringi kaliyan zakat. Zakat inggih punika ngedalaken banda dipun paringaken dumateng tiyang ingkang berhak nampi. Ingkang gadahi tujuan ngresiki manah lan banda saking perkawis ingkang boten halal utawi remeng-remeng. Zakat, ugi dados upaya nahan nafsu bakhil wonten ing manah. Amargi sampun dados watakipun tiyang punika tresna dateng banda uga donya. Zakat ugi dados simbol kepradulen tiyang dumateng tiyang sanes.

Kaping tiga, amar ma’ruf nahi munkar, jaminan utawi kepastian penegakan hukum.
Tingkatan amar ma’ruf nahi munkar sampun diatur wonten ing agami, inggih punika kanti kekuasaan utawi tangan kagem ingkang gadah wewenang. Kanti lisan utawi tutur kagem sinten mawon ingkang saget paring pitutur. Menawi kalih-kalihipun boten saget dipun tumindakaken, mila kanti pengingkaran wonten ing manah. Menika sak apes-apesipun iman. Masalah kepastian hukum menika Rasulullah Saw sampun maringi tuladha dateng kita sedaya. Nalika menika sahabat nyuwun dipun entengaken hukuman dateng tiyang estri ingkang sampun zina. Nanging, Rasulullah kanti tegas menolak lan ngendikan, “Pada ngertenono, penyebab kehancuran umat biyen yaiku pas wong sugih maling, ora dijejegake hukuman. Ning yeng sing maling kui rakyat cilik, sak nalika kuwi hukuman dijejegake. Ngertenono, menowo Fatimah putrane Muhammad maling. Aku dewe sing bakal motong tangane.

Kaping sekawan, mangsulaken sedaya urusan dumateng Allah kemawon.
Ingkang sampun dipun sebataken kala wou bilih jagi moral utawi akhlak kanti shalat, ugi bangun kepradulen sosial kanti ngedalaken zakat, amar ma’ruf nahi munkar dipun lampahi kanti seimbang, selajengipun masrahaken sedaya urusan dateng Allah Swt. Amargi, Allah-lah ingkang badhe ngatur urusan kita sedaya.

Kados firmanipun Allah:
وَشَاوِرۡهُمۡ فِي ٱلۡأَمۡرِۖ فَإِذَا عَزَمۡتَ فَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُتَوَكِّلِينَ ١٥٩
Lan Musyawaroho karo dekne kabeh ing urusan kui. Banjur yen awakmu wes bulatke tekad, tawakkalo marang Allah. Saktemene Allah nyenengi wong-wong sing tawakkal. (QS. Ali Imran : 159)

Menungso meniko alit boten wonten artosipun dibandingaken kaliyan kekuasaan Allah. Milo saking menika, sedoyo perkawis persoalan kedah dipun pasrahaken dateng Allah. 

Mengeti kemerdekaan boten namung perayaan seremonial kemawon, boten namung semarak werna-wermi gendera uga umbul-umbul, ugi boten namung aneka lomba kemawon. Mila saking menika, kita kedah saget ngisi kemerdekaan menika kanti sae selaras kaliyan menapa ingkang sampun dipun syari’ataken. Ampun ngantos kita sedaya ngisi kemerdekaan punika kanti perkawis ingkang dipun larang dening Allah.




www.iwanhafidz.com

There was an error in this gadget

Followers

Total Pageviews

KOMEN

H. Iwan Hafidz Zaini, S.HI

Berfikirlah..
Terhadap jawaban yang kita temukan itu RAGUKANLAH..Dan berfikirlah seluas-luasnya...
Kebenaran tidak akan pernah merendahkan atau menghinakan orang yang mencapainya. Namun justru mengagungkan dan menghormatinya...

Sukai Halaman ini

Beli Buku Online

Toko Buku Online Belbuk.com

Tweet

Popular Posts

Komen Via FB