Wednesday, February 28, 2018



Dunia adalah tempat yang asing. Bukan tempat tinggal yang sesungguhnya. Tempat yang sesungguhnya adalah akherat. Akan tetapi, diantara kita berfikir sebaliknya, menganggap bahwa dunia ini adalah tempat tinggal sesungguhnya dan akherat adalah tempat yang asing. Sehingga banyak diantara kita yang bersungguh-sungguh dalam mencari keuntungan dunia. Lupa bahwa keuntungan akherat itu yang paling penting. Rugilah kita jika hanya mengejar kehidupan dunia sampai melupakan kehidupan sesungguhnya di akherat. Na’udzubillah min dzalik.

Hal yang membuat agar kita tidak melupakan kehidupan akherat adalah dengan selalu mengingat kematian. Sebab setiap yang bernyawa pasti akan mati. Mengingat kematian bukan berarti menjadikan kita takut mati kemudian selalu terbayang-bayang kematian sehingga membuat kita malas bekerja, malas beramal. Tetapi, dengan mengingat kematian menjadikan kita ingat bahwa kehidupan tidak hanya didunia saja. Kehidupan akherat pasti akan dilalui juga. Oleh sebab itu, karena perjalanan kehidupan tidak berhenti di dunia, pastinya kita akam mempersiapkan bekal menuju kehidupan selanjutnya. Dan bekal tersebut hanya bisa kita peroleh di dunia ini. Ibarat dunia ini adalah ladang. Apa yang kita tanam dan rawat. Itulah yang akan kita panen kelak.

Salah satu cara untuk mengingat kematian adalah dengan ziarah kubur. Memang dulu Rasulullah pernah melarang. Tetapi akhirnya Nabi menyuruh umatnya untuk berziarah kubur. Tujuannya untuk mengingat kematian dan mendoakan orang yang telah meninggal. Khususnya orang tua kita. Karena amalan yang tidak terputus sampai seseorang meninggal adalah doa anak yang shalih. Dengan mengingat kematian, kita akan bersegera untuk melakukan kebaikan tanpa menunda-nunda. Tidak ada waktu yang sia-sia.

http://www.facebook.com/ngajibarengkangiwan

Sunday, February 25, 2018



Rasulullah melarang umatnya untuk meminta-minta. Akan tetapi kalau ada orang yang memberi, tidak boleh menolak. Harus diterima. Setelah menerima pemberian orang llain terserah mau diapakan. Digunakan sendiri atau disedekahkan ke orang lain yang membutuhkan. Orang yang meminta-minta besok di hari kiamat daging di wajahnya akan berkurang secuil. Bayangkan jika ada orang yang setiap hari meminta-minta. Tak ada sisa daging diwajahnya. Na’udzubillah min dzalik.

Oleh sebab itu, Rasulullah mengajarkan kepada umatnya untuk makan dari hasil usahanya sendiri, bukan dari hasil minta-minta atau mengemis. Para Nabi juga makan dari hasil usahanya, seperti Nabi Daud seorang designer busana alias pembuat pakaian khususnya pakaian dari besi untuk peperangan. Nabi Nuh seorang tukang industri dan tukang kayu. Nabi Zakaria juga seorang tukang kayu. Nabi Musa seorang penggembala. Nabi Muhammad juga penggembala dan pedagang. Ketika orang bisa menghasilkan uang dari hasil usaha sendiri, maka ia tidak akan meminta-minta. Malah jika diberi kelebihan harta ia bisa memberi sedekah kepada orang yang membutuhkan. Itulah mengapa, tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Artinya, memberi lebih baik dari pada menerima.

Boleh meminta-minta dalam tiga keadaan. Pertama, ketika mempunyai beban suatu tanggungan harta sampai ia memperoleh sejumlah harta yang diperlukan tadi. Kedua, orang yang tertimpa bencana dan hartanya habis sebab bencana tersebut. Ia boleh meminta-minta sampai kebutuhannya tercukupi. Ketiga, orang yang benar-benar melarat atau faqir. Dalam hal ini harus ada tiga orang yang adil yang menyatakan bahwa orang tersebut benar-benar melarat hidupnya. Ia boleh meminta-minta sampai kebutuhannya terpenuhi. Jadi, mengemis itu diperbolehkan asal benar-benar miskin dan untuk memenuhi kebutuhannya. Jika telah terpenuhi maka ia tidak boleh mengemis. Apalagi mengemis hanya untuk menumpuk-numpuk kekayaan, jelas itu tidak diperbolehkan.



Wednesday, January 17, 2018

Manusia hidup di dunia ini rizkinya telah dijamin oleh Allah. Berbeda-beda pula orang dalam mensikapi pemberian rizki tersebut. Ada yang menggunakan rizki dengan sebaik-baiknya sesuai ajaran agama, ada pula yang bersikap sebaliknya. Menggunakan rizki tidak sesuai dengan tuntunan agama. Salah satunya adalah dengan pemborosan.

Bagi orang yang menjalani hidup dengan nilai iman, tidak akan bersikap boros. Bahkan menjauhi hal tersebut. Karena ia menyadari bahwa kekayaan yang dimiliki, pada hakekatnya adalah titipan Allah dan harus digunakan sesuai petunjuk Allah. Karena semua akan dimintai pertanggungjawaban.

Jika kita hidup hanya mengikuti hawa nafsu tidak akan ada habisnya kecuali jika telah dipisahkan oleh kematian.

“Bermegah—megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk kedalam kubur.” (QS. At-Takatsur:1-2)     

Betapapun besarnya penghasilan, cepat atau lambat gaya hidup boros hanya akan menjerumuskan kita dalam kemiskinan. Karena seorang yang boros, daftar belanja yang harus dipenuhi jauh lebih besar daripada penghasilannya. Seumpama ada orang yang berpenghasilan sebulan satu milyar rupiah akan tetapi keinginan belanjanya sebulan dua milyar rupiah, maka pada hakekatnya ia telah miskin. Jika ia benar-benar tidak bisa mengendalikan gaya hidupnya tersebut, maka ia akan benar-benar jatuh miskin. Seperti, legenda tinju dunia Mike Tyson, kekayaannya mencapai 3 trilyun akhirnya habis dan dinyatakan bangkrut, bahkan memiliki hutang hingga 23 juta dolar AS (sekitar Rp. 230 miliar) akibat tidak bisa mengendalikan gaya hidupnya.

Jika orang yang berpenghasilan miliaran saja bisa bangkrut, apalagi orang yang berpenghasilan pas-pasan. Jika tak hemat tentunya akan mengalami kebangkrutan.. penghasilan yang minim memang sebuah persoalan, tetapi akan menjadi persoalan yang lebih dalam jika hidup dalam keborosan.

Pemborosan (tabdzir) adalah membelanjakan sesuatu bukan pada jalan yang benar. Karena itu gaya hidup boros tidak harus dalam bentuk mengeluarkan uang berjuta-juta. Belanja puluhan ribu saja sudah termasuk boros jika digunakan dalam kemubadziran.

Menurut Imam Thabari tabdzir adalah mengeluarkan harta atau menginfakan tidak pada tempatnya atau dalam kemaksiatan secara berlebih lebihan.

Imam Mujahid menjelaskan, tabdzir adalah “infaqu fii ma’siyatillah au fii ghoiri haqqin au fasadin”. Maksudnya tabdzir adalah membelanjakan harta di jalan yang maksiat atau di jalan selain yang haq atau untuk kerusakan.

Jadi jika ada seseorang yang memiliki gaji 3 juta, dengan gaji itu dia sudah membayar listrik, air, SPP anaknya, dan memenuhi semua kebutuhan keluarganya kemudian ada sisa uang dan dia membeli sesuatu yang haram seperti, minuman keras, judi meskipun hanya 10.000 rupiah maka itu termasuk tabdzir (pemborosan). Dan pemborosan adalah teman setan.

Sebagaimana firman Allah dalam surat Al Israa’ ayat 26 – 27:

وَآتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا

Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur hamburkan (hartamu) secara boros.

إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا

Pemboros pemboros itu adalah saudara saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.

Dengan berhemat, separuh persoalan bisa terselesaikan. Karena pengeluaran yang terkendali akan banyak menyelamatkan dari kerumitan yang tidak perlu terjadi. Hidupnya lebih tenang karena fokus kepada kebutuhan yang penting dan tidak diperbudak oleh keinginan hawa nafsu.

Jadi, agar seseorang bisa hidup dengan baik, bukan hanya ia harus meningkatkan penghasilan. Tetapi juga harus berhemat terhadap pengeluaran yang tidak perlu.

Bersikap hemat bukan berarti kita harus bersikap pelit atau kikir. Kedua sifat ini (hemat dan pelit) hampir sama tetapi berbeda. Hemat dan pelit adalah sama-sama tidak mudah menghamburkan harta. Tetapi beda tujuannya. Bila sesuatu itu mesti dikeluarkan, seperti zakat dan biaya pendidikan anak, seorang yang hemat tidak akan segan mengeluarkan uangnya. Bahkan mengutamakan agar cepat terbayarkan. Karena ia berhemat untuk menunaikan kewajibannya itu. Tetapi, seorang yang kikir mesti tahu hal itu wajib dan mesti dikeluarkan, ia tetap tidak akan mengeluarkan. Orang hemat mengendalikan uang. Sedangkan orang pelit dikendalikan uang.

Oleh karena itu, kita berhemat bukan berarti kita cinta harta, tetapi karena kita menyadari bahwa harta adalah titipan dari Allah agar digunakan dengan semestinya sesuai dengan apa yang Allah perintahkan. Kita berhemat tidak untuk menimbun, tetapi untuk menyisihkan harta agar bisa diinfakkan atau sedekahkan membantu sesama.




Thursday, December 28, 2017


Pondok pesantren  selain sebagai tempat menimba ilmu agama adalah sesuai dengan ajaran Rasul yaitu memperbaiki akhlak. Sebab, diutusnya Rasulullah Saw adalah untuk menyempurnakan akhlak. Innama bu’istu li utamimma makarimal akhlaq. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika kita temui santri-santri pesantren yang rajin dan alim juga disisi lain ada yang sedikit urakan dan banyak urakan. Atau bahasa kerennya su’ul adab. Ya, karena memang pesantren adalah tempat untuk memperbaiki itu. Jika, ada yang ngomong santri kok ra duwe sopan santun, mungkin yang bilang begitu tidak mengetahui ruh pesantren atau kurang lama ngopinya di pesantren.

Pengalaman saya sendiri ketika di pesantren satu kamar ada yang dari rumah memang sudah kalem, rajin dan ketika di pesantren juga rajin. Ada juga teman satu kamar saya orang yang pernah mengedarkan narkoba dan ketika satu kamar dengan saya masih memakai  walau akhirnya bisa berhenti. Malah ketika dia mendapatkan sejenis serbuk atau daun dia menunjukkan ke saya, “ini ganja bos, mau..”  Kadang aku ambil dan aku buang ke tempat sampah.

Apakah orang seperti itu mencoreng nama pesantren? Tidak. Karena memang tujuannya  adalah memperbaiki. Orang seperti itu, ketika berhadapan dengan kyai – yang benar-benar kyai- dia akan menunduk ta’dzim dan tidak berani mengatakan yang macam-macam tentang kyai ketika dibelakang. Sebab, wibawanya kyai di hadapan santri. 


Kyai saya termasuk kyai yang mendidik dengan hikmah selain dengan mauidhotil hasanah. Beliau kalau menegur tidak pernah pakai dalil dari Al-Qur’an maupun Hadits. Seperti, ketika ada santri mabuk atau memakai narkoba ‘didalili’ innamal khomru wal maisiru....(Ila akhiri ayah). Tapi, dengan kalam hikmah walau saya juga percaya dibalik itu ada keikhlasan doa dari beliau agar santri—santri yang mbeling bisa berubah.

Satu kamar dengan orang yang pernah menjadi pengedar dan pemakai narkoba adalah sedikit pengalaman saya di pesantren. Ia pernah memakai ketika di pesantren sedikit demi sedikit ia tinggalkan karena lingkungan pesantren yang tidak mendukung aktivitasnya lagi. Karena di pesantren penuh dengan aktivitas menuntut ilmu agama, mengaji, membaca maulid al-barzanji, sholawatan, qiro’ah, dan lain sebagainya. Jadi, jika saat ini masih ada teman se-pesantren yang belum berubah lebih baik. Pelan-pelan, insya Allah ia akan bisa berubah ke arah yang lebih baik dan suatu saat malah ia bisa memberi manfaat ke masyarakat.

Wednesday, November 8, 2017


Hadirin Jamaah Jum’at yang Berbahagia

Zaman sekarang ini adalah zaman dimana harta, kedudukan serta pujian dari manusia menjadi ukuran kemuliaan dan ketinggian seseorang dihadapan orang lain. Banyak orang yang mengatakan, orang hebat adalah orang yang terkenal dan namanya sering disebut di mana-mana. Orang sukses adalah orang yang punya kedudukan serta jabatan tinggi atau  mereka yang selalu bekecukupan harta dan hidup tanpa kesusahan. Begitulah kita banyak memaknai tentang kesuksesan dan kemuliaan. Padahal pemahaman seperti itu adalah pemahaman yang kurang benar.

Saya katakan pemahaman tersebut kurang benar, sebab pemahaman seperti itu juga tidak salah. Orang sukses adalah orang yang mempunyai kedudukan, harta, dan lain-lain. Iya benar,akan tetapi itu hanya kesuksesan yang bersifat duniawi. Karena manusia melewati perjalanan hidup tidak hanya di dunia saja. Oleh karena itu harus meraih kesuksesan ukhrowinya. Dan itulah kesuksesan, keberhasilan, kemuliaan yang sebenarnya. Akibat dari pemahaman yang kurang benar, yaitu mementingkan keberhasilan dan kemuliaan duniawi, sehingga banyak orang yang akhirnya beramal hanya demi mencari ridho dan kerelaan manusia, tanpa peduli lagi pada pahala dan balasan dari Allah. Asal pekerjaan itu disenangi dan dikagumi serta mulia di mata manusia, ajaran agama Allah sampai ditinggalkan. Akhirnya, muncullah golongan manusia yang beramal supaya dilihat dan dipuji oleh orang lain, atau beramal karena riya’. Mereka berbuat sesuatu agar bisa mendapat pujian dan perhatian manusia. Karena mereka menganggapnya sebagai upaya ‘mengejar kesuksesan’.

Pemahaman seperti itu bisa menipu manusia, sehingga lupa pada hakikat ketinggian dan kemuliaan yang sebenarnya, yakni ketaqwaan dan ketaatan kepada Allah. “Sesungguhnya yang paling mulia diantara kamu adalah yang paling bertaqwa (kepada Allah). Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui Mahateliti”. (QS al-Hujurat: 13)

Ketaqwaan dapat diperoleh dengan menjauhi larangan-larangan Allah dan menjalankan perintah-perintah Allah. Dan manusia banyak yang lupa, bahwa esensi dari penciptaan manusia di dunia ini adalah untuk beribadah ikhlas hanya kepada-Nya. Semua perbuatan kita, baik atau buruk, besar atau kecil pasti akan mendapatkan balasan yang setimpal. Bagi mereka yang beramal karena Allah, Allah sendirilah yang telah menjamin pahala dan balasannya. 

Rasululla Saw bersabda, “Barangsiapa yang mencari keridhaan Allah meskipun ia memperoleh kebencian dari manusia, maka Allah akan mencukupkan dia dari ketergantungan kepada manusia. Dan barangsiapa yang mencari keridhaan manusia dengan mendatangkan kemurkaan Allah, maka Allah akan menyerahkanya kepada manusia.” (HR Tirmidzi).

Imam Muhammad bin Abdurrahman al-Mubarakfuri mengatakan, “Maksudnya, Allah akan menjadikannya berada dibawah kuasa manusia, lalu mereka menyakiti dan menganiayanya.”

Ma’asyirol Muslimin Rahimakumullah

Penyakit haus pujian atau riya’ ini ternyata tidak hanya menyerang kalangan awam saja. Bahkan banyak penyakit riya’ menjangkiti justru orang-orang yang faham akan bahaya riya’ itu sendiri. Mereka yang ahli ibadah, para da’i dan mubaligh, thaalibul ilmi, serta para penghafal al-qur’an justru lebih berpotensi besar terjangkiti virus ini. Kuantitas amal shalih yang mereka kerjakan, ternyata membuat setan tergiur untuk mengggelincirkan kelompok ini, agar keikhlasan mereka pudar, dan ganti beramal untuk manusia, pujian, serta kedudukan. Seorang da’i akan di hasut setan agar berbuat riya’ memperbagus dakwahnya demi popularitas dan dikatakan sebagai ‘orator ulung’ atau ‘penguasa panggung’. Para penghafal Al-Qur’an akan diarahkan supaya beramal demi dianggap sebagai ‘orang yang dekat dengan Kitabullah’. Sedangkan setan akan menghasut para alim ulama agar mereka beramal supaya dielukan sebagai orang yang ‘fakih dan faham dalam masalah agama’. 

Dikisahkan ada seorang ‘alim yang selalu shalat di shaf paling depan. Suatu hari ia datang terlambat, maka ia mendapat shalat di shaf kedua. Di dalam benaknya terbersit rasa malu kepada para jama’ah lain yang melihatnya. Maka pada saat itulah, ia menyadari bahwa sebenarnya kesenangan dan ketenangan hatinya ketika shalat di shaf pertama pada hari-hari sebelumnya disebabkan karena ingin dilihat orang lain. Riya’ semacam ini diancam oleh Allah dalam Surat Al-Ma’un ayat 4-5 yang artinya, “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya, yang berbuat karena riya” (Al Maa’uun 4-6)

Riya’ adalah ibadahnya seseorang kepada Allah, akan tetapi ia melakukan dan membaguskannya supaya di lihat dan dipuji oleh orang lain, seperti dikatakan sebagai ahli ibadah, orang yang khusyu’ shalatnya, yang banyak berinfaq dan sebagainya. Intinya dia ingin agar apa yang dikerjakan mendapat pujian dan keridhoan manusia. Rasulullah menyebut riya’ dengan “syirik kecil”, sehingga bahayanya tak bisa dianggap sebelah mata.

Apalagi pada zaman sekarang, dengan dukungan media sosial sehingga budaya selfie dan narsis muncul dan memudahkan orang untuk berbuat riya’ dengan amalnya. Seperti ketika melakukan santunan, ia foto dan kemudian diposting di media sosial. Ketika ia berbuka puasa, ia membuat status  dengan menyebut menu buka puasa supaya dipuji orang ia ahli puasa, ketika bangun malam selesai tahajud ia juga membuat status selesai tahajud agar dipuji oleh orang lain sebagai orang yang ahli qiyamul lail, dan sebagainya. Riya’ itu sesuatu yang lembut ibarat semut hitam diatas batu hitam dalam kegelapan malam. Benar-benar kehadirannya dalam hati kita tidak terasa dan kentara.

Riya’ dibagi kedalam dua tingkatan:
1.      Riya’ kholish yaitu melakukan ibadah semata-mata hanya untuk mendapatkan pujian dari manusia,
2.      Riya’ syirik yaitu melakukan perbuatan karena niat menjalankan perintah Allah, dan juga karena untuk mendapatkan pujian dari manusia, dan keduanya bercampur.

Riya’ bisa muncul didalam diri seseorang pada saat setelah atau sebelum suatu ibadah selesai dilakukan.

Perbuatan riya bila dilihat dari sisi amal/citra yang ditonjolkan menurut Imam Al-Ghazali dapat dibagi atas 5 kategori, yaitu:
1.      Riya’ dalam masalah agama dengan penampilan jasmani, misalnya memperlihatkan badan yang kurus dan pucat agar disangka banyak puasa dan sering melakukan shalat tahajud.
2.      Riya’ dalam penampilan tubuh dan pakaian, misalnya memakai baju koko agar disangka shaleh atau memperlihatkan tanda hitam di dahi agar disangka rajin sholat.
3.      Riya’ dalam perkataan, misalnya orang yang selalu bicara keagamaan agar disangka ahli agama.
4.      Riya’ dalam perbuatan, misalnya orang yang sengaja memperbanyak shalat sunnah di hadapan orang banyak agar disangka orang sholeh. Atau seseorang yang pergi berhaji/umroh untuk memperbaiki citranya di masyarakat.
5.      Riya’ dalam persahabatan, misalnya orang yang sengaja mengikuti ustadz ke manapun beliau pergi agar disangka ia termasuk orang alim.

Hadirin Jamaah Jum’at yang berbahagia
Janganlah kita  membiarkan pahala ibadah-ibadah yang telah sulit kita kumpulkan hilang tanpa arti dan berbuah keburukkan lantaran masih ada riya di hati kita. Imam an-Nawawi dalam kitab Riyadush Shalihin, dalam bab Tahriimur Riya’ (pengharaman riya’) menyebutkan sebuah hadist yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah. Dalam hadist tersebut Rasulullah bersabda tentang tiga orang yang pertama kali di hisab pada hari kiamat. Mereka adalah orang yang mati syahid dalam pertempuran, seseorang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya, serta orang yang selalu berinfaq di jalan Allah. Setelah mereka dipanggil, maka ditunjukkan kepada mereka kenikmatan dan pahala yang banyak karena amal shalih yang telah mereka kerjakan. Namun ternyata pahala mereka musnah, dan ketiganya justru menjadi penghuni neraka, karena ternyata amal kebaikan yang mereka kerjakan di dunia hanya bertujuan mendapatkan pengakuan dan pujian dari manusia. Mereka menjual pahala dan kenikmatan akhirat demi manisnya ucapan dan indahnya pandangan orang lain. Na’udzu billahi min dzalik.

Hal ini sesuai dengan Firman Allah::
قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِاْلأَخْسَرِينَ أَعْمَالاً الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا
Artinya: “Katakanlah: ‘Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya’. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedang mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” [Al Kahfi : 103-104]

Bagaimana cara kita menjauhi virus yang satu ini? Solusinya adalah dengan berusaha untuk ikhlas di setiap amal yang kita kerjakan dan selalu berupaya menjaganya. Karena setan tak akan pernah menyerah untuk memberikan bisikan-bisikannya demi menggoyahkan dan merusak keikhlasan seseorang. Agar manusia menjadi budak sesamanya, beramal untuk kepuasan semu, serta mencampuradukkan tujuan hakiki amal shalih dengan tujuan bathil.

Masalah ikhlas merupakan masalah yang sulit, sehingga sedikit sekali perbuatan yang dikatakan murni ikhlas karena Allah. Dan sedikit sekali orang yang memperhatikannya, kecuali orang yang mendapatkan taufiq (pertolongan dan kemudahan) dari Allah. Adapun orang yang lalai dalam masalah ikhlas ini, ia akan senantiasa melihat pada nilai kebaikan yang pernah dilakukannya, padahal pada hari kiamat kelak, perbuatannya itu justru menjadi keburukan. Merekalah yang dimaksudkan oleh firman Allah Subhanahu wa Ta'ala : 

وَبَدَا لَهُم مِّنَ اللهِ مَالَمْ يَكُونُوا يَحْتَسِبُونَ وَبَدَا لَهُمْ سَيِّئَاتُ مَاكَسَبُوا وَحَاقَ بِهِم مَّاكَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِءُونَ
Artinya “Dan jelaslah bagi mereka adzab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan.Dan jelaslah bagi mereka akibat buruk dari apa yang telah mereka perbuat …” [Az Zumar : 47-48]

Sulitnya mewujudkan ikhlas, dikarenakan hati manusia selalu berbolak-balik. Setan selalu menggoda, menghiasi dan memberikan perasaan was-was ke dalam hati manusia, serta adanya dorongan hawa nafsu yang selalu menyuruh berbuat jelek. Karena itu kita diperintahkan untuk berlindung dari godaan setan. Allah berfirman, yang artinya : Dan jika kamu ditimpa suatu godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [Al A’raf : 200].

Hadirin Jamaah Jum’at yang berbahagia,
Semoga Allah senantiasa melindungi kita dari godaan setan yang selalu membisiki keburukan di hati kita.

www.iwanhafidz.com

There was an error in this gadget

Followers

Total Pageviews

KOMEN

H. Iwan Hafidz Zaini, S.HI

Berfikirlah..
Terhadap jawaban yang kita temukan itu RAGUKANLAH..Dan berfikirlah seluas-luasnya...
Kebenaran tidak akan pernah merendahkan atau menghinakan orang yang mencapainya. Namun justru mengagungkan dan menghormatinya...

Sukai Halaman ini

Beli Buku Online

Toko Buku Online Belbuk.com

Tweet

Popular Posts

Komen Via FB