Iwan Hafidz Zaini Homepage

Kudus

Mau beli jajanan khas Kudus eh ada museum rumah adatnya..numpang foto..

Ngayogjokarto

Keliling nyari blangkon akhirnya dapet...

Ngaji

ngisi acara walimatul 'ursy ^_^

Penyuluh Agama Islam Kemenag Boyolali

Mau study banding ke Kemenag Jawa Barat sama DKI. nampang dulu di depan Kantor

Haji 2005

Kenangan di Arofah bersama bapak..

Wednesday, January 25, 2017

Khutbah Jum'at => Dampak Berbuat Baik

Hadirin jamaah Jum’at yang Berbahagia

Dihari yang penuh berkah ini saya berpesan kepada hadirin agar senantiasa meningkatkan ketaqwaan kepada Allah Swt. Tak lupa kita selalu menjalankan perintah-perintahNya dan menjauhi segala larangan-larangan-Nya sehingga kita tergolong umat-Nya yang beriman.

Orang-orang yang beriman tidak pernah tamak terhadap harta dunia, kedudukan, atau kekuasaan. Sebagaimana yang dinyatakan Allah dalam sebuah ayat, mereka telah menjual diri dan harta mereka untuk memperoleh surga. Jual beli dan perdagangan tidak melalaikan mereka dari mengingat Allah, mendirikan shalat, dan berjuang untuk agama. Disamping itu, mereka tetap sabar dan taat sekalipun mereka diuji dengan kelaparan atau kehilangan harta, dan mereka tidak pernah mengeluh. Orang-orang yang berhijrah pada zaman Nabi merupakan sebuah contoh. Mereka berhijrah ke kota lain dengan meninggalkan rumah, pekerjaan, perdagangan, harta, dan kebun mereka, dan di sana mereka puas dengan yang sedikit mereka miliki. Sebagai balasannya, mereka hanya mengharapkan keridhaan Allah. Kerelaan mereka dan keikhlasan mereka dalam mengingat akhirat menyebabkan mereka memperoleh rahmat dari Allah berupa kehidupan yang baik. Kekayaan yang diberikan Allah kepada mereka tidak menyebabkan mereka mencintai dunia, sebaliknya mereka bersyukur kepada Allah dan mengingat-Nya.

Hadirin Jamaah Jum’at yang berbahagia

Salah satu tanda orang beriman adalah selalu berbuat baik. Sebab berbuat baik adalah perintah Allah. Sebagaimana yang telah difirmankan Allah:

وَأَحۡسِنُوٓاْۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِينَ 

Artinya: “Dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” [al-Baqarah :195].

Orang yang berbuat baik akan senantiasa bersama Allah. Jika ia bersama Allah tentunya Allah akan melindunginya.

 إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَواْ وَّٱلَّذِينَ هُم مُّحۡسِنُونَ 

Artinya: “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.”  [an-Nahl :128].

Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini, dan ia beriman kepada Allah serta mengerjakan amal shalih, maka Allah SWT memberi kabar gembira, bahwasanya perbuatan baik mereka akan menjadi jaminan yang berguna di akhirat kelak. Kabar gembira ini merupakan salah satu hiburan dan memotivasi seorang muslim bahwa sebagai pelaku kebaikan, maka waktu yang ia korbankan, fisik yang kepayahan, pikiran yang terkuras, dan materi yang terpakai di jalan Allah SWT semua itu tidak sia-sia di sisi Allah dan kelak akan membuahkan hasil yang menyenangkan.

Lalu apakah yang disebut dengan“kebaikan” itu? Setiap orang memiliki pendapat masing-masing tentang kebaikan; ada yang menyatakan bahwa yang disebut kebaikan adalah bersikap menyenangkan, memberikan uang kepada orang miskin, bersikap sabar terhadap berbagai bentuk perlakuan, itulah yang sering kali disebut “kebaikan” oleh masyarakat. Namun, Allah memberitahukan kita di dalam al-Qur’an tentang hakikat “kebaikan”:

لَّيۡسَ ٱلۡبِرَّ أَن تُوَلُّواْ وُجُوهَكُمۡ قِبَلَ ٱلۡمَشۡرِقِ وَٱلۡمَغۡرِبِ وَلَٰكِنَّ ٱلۡبِرَّ مَنۡ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ وَٱلۡكِتَٰبِ وَٱلنَّبِيِّ‍ۧنَ وَءَاتَى ٱلۡمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِۦ ذَوِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَٰمَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينَ وَٱبۡنَ ٱلسَّبِيلِ وَٱلسَّآئِلِينَ وَفِي ٱلرِّقَابِ وَأَقَامَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَى ٱلزَّكَوٰةَ وَٱلۡمُوفُونَ بِعَهۡدِهِمۡ إِذَا عَٰهَدُواْۖ وَٱلصَّٰبِرِينَ فِي ٱلۡبَأۡسَآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَحِينَ ٱلۡبَأۡسِۗ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ صَدَقُواْۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُتَّقُونَ 

Artinya: “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebaikan, akan tetapi sesungguhnya kebaikan ialah beriman kepada Allah, hari kiamat, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir, dan orang-orang yang meminta-minta dan memerdekakan hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang bertakwa.”(QS. al-Baqarah: 177)

Bagaimana Allah mengetahui hambaNya yang baik? Yaitu dengan memberinya ujian. Allah SWT memberitahukan bahwa adanya semua ujian yang didatangkan itu, semata-mata ditujukan untuk mencari insan-insan dengan amalan terbaik. Sebagaimana firman Allah SWT:

ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلۡمَوۡتَ وَٱلۡحَيَوٰةَ لِيَبۡلُوَكُمۡ أَيُّكُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلٗا

Artinya: “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” [QS. al-Mulk:2].

Hadirin Jamaah Jum’ah rahimakumullah

Lantas apa dampak dari kita berbuat baik?


1.        Kebaikan akan dibalas dengan kebaikan dan akan terus mengalir
Rahasia lain yang dijelaskan Allah dalam al-Qur’an adalah bahwa orang-orang yang berbuat kebaikan akan memperoleh pahala berupa kebaikan di dunia. Mengenai hal ini, Allah berfirman sebagai berikut:
قُلۡ يَٰعِبَادِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمۡۚ لِلَّذِينَ أَحۡسَنُواْ فِي هَٰذِهِ ٱلدُّنۡيَا حَسَنَةٞۗ

Artinya: “Katakanlah: ‘Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhan­mu.’ Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan.”(Q.s. az-Zumar: 10)

Sekecil apapun kebaikan yang kita berikan pada orang lain pasti akan membekas di hatinya. Hal ini akan membuat orang yang sudah kita bantu tergugah hatinya untuk melakukan kebaikan pada orang lain, sehingga kebaikan itu akan terus mengalir. Misalkan kita memberikan minuman kepada orang lain yang sedang haus, pasti orang tersebut merasa sangat tersanjung meskipun kebaikan yang kita lakukan sederhana namun baginya itu sangat berarti karena dia memang sedang sangat membutuhkan.

Hati orang tersebut akan sangat bahagia dan membuat dia juga ingin berbuat baik juga kepada orang lain. Umpama setelah dia minum dan merasa tidak haus dia kembali melakukan aktivitas dan dia bertemu dengan orang yang mobilnya mogok, dengan senang hati dia mendorongnya. Sang pemilik mobil pasti sangat bahagia kemudian ia meneruskan kebaikan pada seseorang yang membutuhkan tumpangan. Nah dan seterusnya. Kebaikan itu akan selalu mengalir dan satu kebaikan yang kita lakukan mungkin saja bermanfaat bagi banyak orang.

2.        Memiliki banyak teman
Seseorang yang awalnya tidak kenal namun ketika kita memberanikan diri menolong siapa saja yang membutuhkan pastinya membuat kita memiliki banyak teman. Ingat satu kebaikan akan menumbuhkan seribu kebaikan lainnya. Meskipun bagi kita sederhana namun pertolongan itu pasti sangat dibutuhkan dan dia sangat senang akhirnya teman kita pun bertambah. Tambah teman lebih baik daripada menambah musuh. Perbanyak kebaikan dan banyak teman juga yang kita peroleh.

3.        Kehidupan dan Rezeki yang baik
Pastinya berbuat baik kepada sesama akan semakin mengalirkan rezeki kita. Tiap amalan yang kita lakukan pasti akan di balas oleh Alloh berlipat ganda banyak nya. Selain itu berbuat baik dapat membuat kita mendapatkan kejutan yang tidak terkira. Misalkan dulu kita pernah menolong orang lain padahal itu sangat sederhana dan kita melupakannya. Namun orang tersebut tetap mengingatnya dan ketika kita bertemu dan saat kita membutuhkan dia akan dengan senang hati menolong kita. Nah kejutan yang tidak terkira akan kita dapatkan karena hal itu.

مَنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا مِّن ذَكَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤۡمِنٞ فَلَنُحۡيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةٗ طَيِّبَةٗۖ وَلَنَجۡزِيَنَّهُمۡ أَجۡرَهُم بِأَحۡسَنِ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ٩٧

“Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sungguh akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sungguh akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS. An-Nahl:97).

فَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَهُم مَّغۡفِرَةٞ وَرِزۡقٞ كَرِيمٞ ٥٠ 

Artinya: “Maka orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia.” (QS. Al-Hajj:50)

4.        Membuat hati merasa lebih bahagia dan tenang
Dapat menolong orang lain pastinya membuat hati kita akan lebih bahagia. Kita akan merasa bahwa masih banyak hal positif dan berguna yang dapat kita lakukan untuk orang lain. Kita akan merasa sangat berarti karena dapat membantu nya. Dengan melihat orang lain bahagia tentunya akan membuat kita bahagia juga kan?. Meskipun itu sederhana tapi satu bantuan kita akan sangat mereka hargai dan sangat berarti untuk mereka jadi jangan pernah ragu untuk berbuat baik ya. Melihat orang lain tersenyum bukankah salah satu hal yang membuat kita bahagia?. Kebahagiaan memang bisa muncul dalam berbagai cara dan sesederhana apapun itu.

5.        Amal perbuatannya dilipat gandakan
Allah berjanji akan melipatgandakan perbuatan hamba-hamba-Nya yang berbuat kebaikan. Sebagian ayat-ayat al-Qur’an yang membicarakan masalah ini adalah sebagai berikut:

مَن جَآءَ بِٱلۡحَسَنَةِ فَلَهُۥ عَشۡرُ أَمۡثَالِهَاۖ وَمَن جَآءَ بِٱلسَّيِّئَةِ فَلَا يُجۡزَىٰٓ إِلَّا مِثۡلَهَا وَهُمۡ لَا يُظۡلَمُونَ ١٦٠

Artinya: “Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan yang jahat maka dia tidak diberi pembalasan mela­in­kan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya.”(Q.s. al-An‘am: 160)

Hadirin Jamaah Jum’at yang berbahagia


Demikian khutbah Jum’at kali ini semoga kita bisa menjadi pribadi yang selalu berbuat baik dan memberi manfaat kepada orang lain.karena amal kita baik atau buruk sekecil apapun besok kita akan bisa melihat balasannya.

Thursday, December 29, 2016

Khutbah Jum'at => Sukses dengan Memanfaatkan Umur

Hadirin Jamaah Jum’at Rahimakumullah

Sebentar lagi kita akan mengalami pergantian tahun masehi. Itu artinya dengan bergantinya tahun maka usia kita akan bertambah.  Dengan bertambahnya usia ini apakah kita telah banyak memanfaatkan umur untuk kebaikan atau malah sebaliknya?

Nabi bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ، وَشَرُّ النَّاسِ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَسَاءَ عَمَلُهُ

“Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amalannya. Dan sejelek-jelek manusia adalah orang yang panjang umurnya dan jelek amalannya.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi dan Al-Hakim)

Memanfaatkan umur di dunia ini sangat penting karena waktu terus berjalan, dan tak mungkin akan terulang kembali. Manusia dituntut untuk memaksimalkan waktu atau mempergunakan kesempatan yang diberikan untuk perbuatan-perbuatan bermutu, sehingga tak menyesal di kehidupan kelak. Orang-orang yang menyesal di akhirat digambarkan oleh Al-Qur’an merengek-rengek minta kembali agar bisa memperbaiki perilakunya.


حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءَ أَحَدَهُمُ ٱلۡمَوۡتُ قَالَ رَبِّ ٱرۡجِعُونِ ٩٩ لَعَلِّيٓ أَعۡمَلُ صَٰلِحٗا فِيمَا تَرَكۡتُۚ كَلَّآۚ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَآئِلُهَاۖ وَمِن وَرَآئِهِم بَرۡزَخٌ إِلَىٰ يَوۡمِ يُبۡعَثُونَ ١٠٠

Artinya: “(Demikianlah keadaan orang-orang yang durhaka itu) hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: "Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan.” (QS Al-Mu’minun: 99-100)

Sangat penting bagi kita untuk memanfaatkan umur. Sebab salah satu perkara yang akan dipertanggungjawabkan nanti dihadapan Allah adalah tentang umur. Untuk apa ia dipergunakan. Sebagaimana sebuah hadist.

لَا تَزُوْلُ قَدَمَا ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ شَبَابِهِ فِيْمَا أَبْلَاهُ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَا أَنْفَقَهُ وَمَاذَا عَمِلَ فِيْمَا عَلِمَ.

Artinya: “Tidak akan bergeser kedua kaki anak Adam di hari kiamat dari sisi RabbNya, hingga dia ditanya tentang lima perkara (yaitu): tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa ia gunakan, tentang hartanya dari mana ia dapatkan, dan dalam hal apa (hartanya tersebut) ia belanjakan serta apa saja yang telah ia amalkan dari ilmu yang dimilikinya.” (HR. at-Tirmidzi)

Hadirin Jamaah Jum’at Rahimakumullah

Memanfaatkan umur dengan sebaik-baiknya adalah kunci menuju kesuksesan. Ada banyak kisah orang sukses yang memanfaatkan waktunya. Dan, hampir semua orang sukses adalah orang yang memanfaatkan waktunya dengan baik.

Sebaliknya, orang gagal adalah orang yang tidak bisa memanfaatkan waktu dengan baik. Waktu-waktu yang dimanfaatkan orang beriman itu seharusnya seperti yang dilakukan para sahabat dan pejuang jaman Rasulullah. Di mana pada siang hari mereka seperti singa di padang pasir yang berjuang tanpa lelah sedangkan malam harinya dihabiskan dengan beribadah seperti rahib-rahib.

Orang besar dan sukses adalah mereka yang memanfaatkan waktunya dengan baik. Dia tidak mau ada waktu—semenit saja—yang terbuang tanpa kebaikan dan kemanfaatan.

Ada sebuah kalimat dari Syekh Ahmad ibn Atha'illah as-Sakandari dalam kitab al-Hikam yang patut kita renungkan:

رُبَّ عُمُرٍ اتَّسَعَتْ آمادُهُ وَقَلَّتْ أمْدادُهُ، وَرُبَّ عُمُرٍ قَليلَةٌ آمادُهُ كَثيرَةٌ أمْدادُهُ.

"Kadang umur berlangsung panjang namun manfaat kurang. Kadang pula umur berlangsung pendek namun manfaat melimpah."

Jadi, tidak penting panjang atau pendeknya umur. Yang terpenting adalah seberapa banyak manfaat umur yang kita miliki. Oleh karena itu, kita jangan menyia-nyiakan waktu yang telah Allah berikan kepada kita. Khususnya, ketika kita diberikan kenikmatan berupa kesehatan dan waktu luang.

Nabi bersabda:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيْهِمَا كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ


“(Ada) dua nikmat yang kebanyakan orang tertipu padanya, (yaitu nikmat) sehat dan senggang.” (HR. Al-Bukhari dan At-Tirmidzi, lihat Shahih Sunan At-Tirmidzi no. 2304)
Kalau mau jujur, sebenarnya kita lebih banyak menghabiskan waktu untuk sesuatu yang tidak bermanfaat daripada yang bermanfaat. Kita lebih banyak bermain daripada belajar. Kita lebih banyak bersendagurau daripada berfikir dan berdzikir. Kita lebih banyak menghabiskan waktu untuk membuka facebook, wa dari pada membuka Al-Qur’an. Lebih banyak menghabiskan waktu untuk urusan duniawi daripada ukhrowi.

Hadirin Jamaah Jum’at yang berbahagia

Kita akan merasakan kenikmatan jika kenikmatan tersebut telah lenyap atau hilang. Kita akan merasakan nikmatnya sehat ketika kita telah tertimpa sakit. kita akan merasakan nikmatnya waktu luang jika kita telah disibukkan oleh berbagai macam perkara. Oleh sebab itu, kita manfaatkan sebaik-baiknya kenikmatan Allah ini.  Imam Al-Ghazali mengatakan, ketika seseorang disibukkan dengan hal-hal yang tidak bermanfaat dalam kehidupannya di dunia, maka sesungguhnya ia sedang menghampiri suatu kerugian yang besar. Sebagaimana sebuah hadist.

عَلاَمَةُ اِعْرَاضِ اللهِ تَعَالَى عَنِ الْعَبْدِ، اشْتِغَالُهُ بِمَا لاَ يَعْنِيهِ، وَ اَنﱠ امْرَأً ذَهَبَتْ سَاعَةٌ مَنْ عُمُرِهِ، في غَيرِ مَا خُلِقَ لَهُ مِنَ الْعِبَادَةِ، لَجَدِيرٌ اَنْ تَطُولَ عَلَيْهِ حَسْرَتُهُ

Artinya: "Pertanda bahwa Allah ta'ala sedang berpaling dari hamba adalah disibukkannya hamba tersebut dengan hal-hal yang tak berfaedah. Dan satu saat saja yang seseorang menghabiskannya tanpa ibadah, maka sudah pantas ia menerima kerugian berkepanjangan.”

Dalam Al-Qur’an pun Allah telah mengingatkan.

وَٱلۡعَصۡرِ ١  إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَفِي خُسۡرٍ ٢  إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ ٣

Artinya: “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasihat menasihati dalam supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.”*
Hadirin Jamaah Jum’ah yang dimulyakan Allah

Sebentar lagi kita akan mengalami pergantian tahun. Terdapat perbedaan pendapat diantara para ulama tentang hukum merayakan tahun baru masehi. Ada yang memperbolehkan ada yang tidak memperbolehkan atau mengharamkannya.  Dasar diperbolehkannya perayaan tahun baru adalah Perayaan malam tahun baru masehi itu  tidak terkait dengan ritual agama tertentu. Ia adalah adat masyarakat dunia secara universal yang bukan lagi milik kelompok tertentu atau agama tertentu. Di berbagai belahan dunia, orang-orang merayakan tahun baru bahkan diiringi dengan pesta dan lainnya.Tetapi bukan di dalam rumah ibadah, juga bukan dalam rangka perayaan agama. Sehingga perkara seperti ini kembali kepada hukum asal muamallah, yakni boleh sampai ada hal yang mengharamkannya. Jika ada seorang muslim yang merayakan tahun baru dengan niat mengikuti ibadah orang kafir, maka hukumnya pasti haram. Atau perayaannya diisi dengan dengan hal-hal  yang haram seperti mabuk-mabukkan, perzinahan  dan perjudian maka hukumnya sudah pasti haram. Tapi bila seseorang sekedar turut menyaksikan pawai, makan bersama keluarga dengan moment tahun baru tentunya diperbolehkan.

Sedangkan pendapat yang mengharamkannya adalah sebab perayaan tahun baru adalah ibadah orang kafir, tasyabbuh dengan kafir, penuh kemaksiatan, bid’ah dan pemborosan. Lantas, kita pilih yang mana? Terserah pada kita. Jika sekiranya kita mampu untuk melakukan sesuai dengan pendapat pertama ya silahkan. Tapi, kalau kita khawatir akan terjerumus kepada kemaksiatan dan dosa, langkah yang hati-hati  adalah kita melewati malam hari sebagaimana biasanya atau dengan bermuhasabah (introspeksi).

Dan yang patut kita renungkan tentang hakikat perayaan tahun baru adalah momen tahunan ini seyogyanya disikapi secara wajar dan tepat. Kebahagiaan terhadap tahun baru semestinya diarahkan kepada rasa syukur terhadap usia yang masih tersisa, bukan menunjukkan kebanggaan berlebihan atas tahun baru itu sendiri. Sisa usia itu merupakan kesempatan untuk menambal kekurangan, memperbaiki yang belum sempurna, dari perilaku hidup kita di dunia. Tahun baru lebih tepat menjadi momen muhasabah (introspeksi) dan ishlah (perbaikan) diri kita.

Hadirin Jamaah Jum'at yang berbahagia

Kita masih diberikan kesempatan untuk beribadah dan beramal. Bertambahnya umur kita sesungguhnya adalah berkurangnya kesempatan kita. Mungkin secara kuantitas umur kita semakin bertambah tetapi secara kualitas kesempatan kita untuk beribadah kepada allah semakin berkurang. Maka kita gunakan sisa-sisa waktu ini untuk semakin menjadikan diri kita muslim yang baik, kita harus bertekad hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan hari kedepan harus lebih baik dari hari ini karena itulah yang dikatakan sebagai orang beruntung atau orang sukses.

Thursday, December 22, 2016

Khutbah Jum'at => 5 Perkara Sakdurunge Katekan 5 Perkara

Kaum Muslimin Jama’ah Jum’ah Rahimakumullah.

Saking mimbar ingkang minulya punika kawula pepenget khusisipun dhumateng badan kula piyambak lan sumrambahipun dhumateng para jama’ah, mangga kita tansah ningkataken raos taqwa kita dateng Allah Swt, kanthi ningkataken ibadah kita saha nebihi awisanipun Allah. Ugi nindakaken dhawuhipun Allah minangka wujud anggen kita ngabektas dhumateng Allah SWT.

Pramila wujud kita manembah dhumateng Allah, sumangga tansah enget dhumateng wasiyatipun Rasul ingkang kasebat wonten pangendikanipun mekaten:

اغتنم خمسا قبل خمس: شبابك قبل هرمك وصحتك قبل سقمك وغناك قبل فقرك وفراغك قبل سغلك وحياتك قبل موتك.

Gunakna limang perkara sadurunge tumeka limang perkara, nom ira sadurunge tumeka tuwa ira, waktu sehat ira sadurunge tumeka lara ira, wektu sugih ira sadurunge tumeka wektu mlarat ira, wektu longgar ira sadurunge tumeka wektu rupek ira, urip ira sadurunge tumeka pati ira”.

Jama’ah Jum’ah Rahimakumullah.

Gangsal wasiyat Rasul punika saget kita udhari mekaten:

1.     Yuswa nem saderengipun dumugi yuswa sepuh. Yuswa nem minangka yuswa kangge madosi bekal kangge yuswa sepah, pikiran tasih cemerlang, manah tasih resik.

Wonten ing hadits ingkang dipun riwayataken Abu Barzah, Rasulullah SAW dawuh : "ora arep geser sikil lorone anak Adam ono ing dino kiamat sakdurunge ditakoni 4 perkara : Marang umure digunakno kanggo opo, wektu enom e digunakno kanggo opo, bondone digolek soko endi lan nang endi ditashorufake, lan ilmune diamalke kanggo opo." (HR. Tirmidzi)
Pramila wekdal nalika tasih nem minangka dados kesempatan kangge pados ilmu, ketrampilan kanthi dipun dasari ilmu-ilmu agama supados punapa kemawon ingkang dipun hasilaken saking ilmu lan ketrampilan punika saget nuwuhaken kesahenan tumrap pribadi lan tiyang sanes.

2. Supados angginakaken wekdal sehat punika saderengipun kita nandang sakit. Sakit artosipun boten fungsinipun salah setunggal saking organ badan kita, sahingga nalika kita nandang sakit nembe ngraosaken pentingipun sehat tuwin pentingipun njagi kesehatan. Kita saget introspeksi kanti ningali wonten ing griyo sakit. Katah tiyang ingkang boten saget aktifitas keranten sakit. Ugi katah biaya ingkang dipun dalaken supados mantun.  Sakit wonten ing mriki boten namung sakit jasmani, nanging ugi sakit rohani. Pramila mangga nalika tasih dipun paringi kesehatan kita berusaha supados tansah sehat lahir lan batos sahingga nalika sehat kita saget nindakaken amal ibadah selaras kalian dhawuhipun Allah SWT.

3. Angginakaken bandha nalika kita sugih saderengipun dumugi wekdal mlarat. Perkawis punapa ingkang boten saget dipun tindakaken selagi kita anggadhahi bandha, temtu saget dipun raosaken nikmatipun, dahar sarwo enak, sare sarwa angler, rasukan sarwa endah, griya, kendaraan sarwa megah. Ananging harta, tahta lan jabatan mawi wates, menawi kita sampun dipun timbali dening Allah. Sedayanipun boten badhe kita bekta kejawi tigang perkawis. Kados pengendikanipun Nabi:

اذامات ابن ادم انقطع عمله الا من ثلاث صدقة جارية او علم ينتفع به او ولد صالح يدعوه له.

Nalika Anak Adam wus mati mangka pupus sekabehe, kejaba telung perkara, shadaqah jariyah, ilmu kang manfaat, anak shaleh kang dongakake marang wong tuwane.”
Nanging, kita kedah eling ugi bilih kasugihan ingkang hakikisanes kemawon berkaitan kalih materi. Kados ingkang nate dipun ngendika’aken Rasulullah SAW,

ليس الغنى عن كثرة العرض ولكن الغنى غنى النفس

 "Kasugihan kuwi ora mung diukur soko bondo dunyo, Nanging kasugihan kuwi sugih ati."
Pramila supados kesugihan lan kemulyan ingkang sampun dipun paringaken punika saget maringi manfaat dhumateng diri pribadi lan tiyang sanes kedah dipun dalaken hakipun inggih punika zakatipun, infaqipun lan shadaqahipun.

4. Angginakaken wekdal ingkang longgar saderengipun kadugen wekdal ingkang rupek. Supados wekdal ingkang dipun paringaken dening Allah punika boten dados wekdal ingkang sia-sia, pramila kedah dipun rencanakaken, dipun programaken, salajengipun dipun tindakaken lan dipun evaluasi. Sahingga saben dintenipun sampun wonten jadwal kangge makarya, kangge mirsani TV, mirengaken radio, maos Quran, maos buku lan sanes-sanesipun. Temtu menawi dipun tindakaken kanthi jadwal badhe dados amal ibadah. Nanging menawi kita ngisi wekdal longgar tanpo amalan, temtunipun bucal wekdal utwi sia-sia. Menawi kita pingin ati kita tansah wonten ing ketaatan marang Allah, wekdal longgar dipun isi kanti sak sae-saenipun. Kanjeng Nabi sampun dawuhaken ingkang artosipun, "Antarane kaluhuran wong Islam yoiku ninggal perkoro sing ora manfaati," (HR. Tirmidzi)

5. Kita supados angginakaken wekdal gesang punika saderengipun dumugi pejah kita. Gesang artosipun tasih manunggal antawisipun jiwa kalian raga, amargi tasih manunggal punika sahingga kita tasih saget ngamal ibadah, nindakaken dhawuhipun Allah minangka kangge merkoleh kabegjan gesang wonten ing akherat samangke. Gesang ing akherat namung kagem metik amal ibadah salaminipun gesang ing alam donya. Sahingga sae lan awonipun, nikmat lan sengsaranipun, bungah lan susahipun gesang ing akherat ingkang langgeng punika dipun perkoleh saking gesang ing alam donya ingkang singkat punika.

Kaum muslimin Rahimakumullah.

Meniko dawuhipun kanjeng Nabi ingkang kedah kita perhatosaken. Iman Al Munawi nate ngendikan, "Limang perkoro iki (waktu nom, wektu sehat, wektu luang, wektu sugih lan wektu sugeng) wong bakal ngerti nilaine sakwuse limang perkoro kui ilang ". (At Taisir Bi Syarh Al Jami' Ash Shogir, 1/356)

Leres nopo ingkang dipun aturaken Imam Al Munawi. Menungso saget nyadari nikmate sehat arikolone nandang gerah, nyadari pentinge wekdal senggang nalikane angsal karepotan, saget nyadari nikmate sugih nalikane dipun cobi kemelaratan, nyadari nikmatipun wekdal nem saget beribadah kanti semangat rikolo sampun sepuh lan badanipun sampun apes. Lan tantunipun bakal menyesal naliko gesang meniko sampun kapundut dening Allah Swt,

Mugi-mugi khutbah singkat punika saget maringi petedah dhumateng kita sedaya, amin.

بارك الله لى ولكم فى القران العظيم ونفعنى واياكم بما فيه من الايات والذكر الحكيم وتقبل منى ومنكم تلا وته انه هوالسميع العليم

Wednesday, December 21, 2016

Peran Ibu dalam Menuju Kesuksesan Anak

Keluarga merupakan salah satu hal terpenting dalam Islam. Bukankah suatu masyarakat terbentuk oleh sekelompok keluarga. Jika keluarga sebagai pembentuk masyarakat itu sehat dan kuat maka suatu negara akan sehat dan kuat. Sebaliknya jika keluarganya sakit dan lemah, maka suatu masyarakat juga akan lemah dan sakit. Dan dalam Islam, keluarga adalah pusat pembentuk masyarakat dan peradaban Islam.

Di dunia Barat, yang disebut dengan keluarga adalah ibu, bapak dan anak atau bahkan single parent. Sedangkan masyarakat Islam memandang keluarga dalam pengertian yang lebih luas (extended family) bahkan tiga atau empat generasi masih dianggap satu keluarga.

Di dalam bahasa Arab kata “keluarga” disebut ahl atau ahila yang berarti keluarga secara menyeluruh termasuk kakek, nenek, paman, bibi dan keponakan. Dalam pengertian yang lebih luas, keluarga dalam Islam merupakan satu kesatuan unit yang besar yang disebut ummah atau komunitas Islam.

Islam memandang keluarga sebagai faktor utama dalam komunitas Muslim. Kemajuan peradaban masyarakat Islam akan lahir dari sebuah keluarga yang cemerlang. Jika sebuah keluarga gagal mempersiapkan generasi muda yang cemerlang maka umat Islam secara keseluruhan akan mundur.

Untuk membentuk ummah yang kuat, Fatima Heeren dalam bukunya Women in Islam (1993), menyebutkan empat syarat dalam membangun keluarga Muslim.

Pertama, Muslim harus menjadikan keluarga sebagai tempat utama pembentukan generasi yang kuat dengan cara menyediakan keluarga sebagai tempat yang aman, sehat dan nyaman bagi interaksi antara orang tua dan anak.
Kedua, kehidupan berkeluarga harus dijadikan sarana untuk menjaga nafsu seksual laki-laki dan perempuan.
Ketiga, Muslim harus menjadikan keluarga sebagai tempat pertama dalam menanamkan nilai-nilai kemanusiaaan seperti cinta dan kasih sayang.
Keempat, keluarga harus dijadikan sebagai tempat bagi anggotanya untuk berlindung dan tempat memecahkan segala permasalahan yang dihadapi anggotanya.

Untuk membangun keluarga muslim yang kuat, hal terpenting yang perlu diperhatikan adalah masalah pendidikan. Terutama pendidikan anak sebagai generasi penerus. Dengan pendidikan seorang anak akan menggapai apa yang ia cita-citakan. Berbicara mengenai pendidikan anak, paling besar pengaruhnya adalah ibu. Di tangan ibu, keberhasilan pendidikan anak-anaknya, walau tentunya keikutsertaan bapak, tidak dapat diabaikan begitu saja. Ibu memainkan peran yang penting di dalam mendidik anak-anaknya, terutama masa balita. Pendidikan dalam keluarga di sini meliputi, pendidikan iman, moral, fisik/jasmani, intelektual, psikologis, dan sosial.

Peranan ibu di dalam mendidik anaknya dibedakan menjadi tiga, pertama, ibu sebagai pemenuh kebutuhan anak. Kedua, ibu sebagai suri teladan  bagi anak. Terakhir, ibu sebagai pemberi motivasi bagi kelangsungan kehidupan anak.

Peranan ibu sebagai pemenuh kebutuhan bagi anak. Ini sangat penting terutama ketika dalam kebergantungan total terhadap ibunya, yakni berusia 0–5 tahun. Kemudian tetap berlangsung sampai periode anak sekolah, bahkan menjelang dewasa. Ibu perlu menyediakan waktu bukan saja untuk selalu bersama, tapi juga berinteraksi maupun berkomunikasi secara terbuka dan timbal balik dengan anaknya.

Pada dasarnya kebutuhan seseorang meliputi kebutuhan fisik, psikis, sosial, dan spiritual. Kebutuhan fisik merupakan kebutuhan makan, minum, pakaian, tempat tinggal, dan lainnya. Psikis meliputi kebutuhan akan kasih sayang, rasa aman, diterima, dan dihargai. Sedangkan kebutuhan sosial akan diperoleh anak dari kelompok di luar lingkungan keluarganya.

Dalam pemenuhan kebutuhan ini, ibu hendaknya memberi kesempatan bagi anak untuk bersosialisasi dengan teman seusianya. Kebutuhan spiritual adalah pendidikan yang menjadikan anak mengerti kewajiban kepada Allah SWT, Rasul, sesama manusia dan lingkungannya, serta orang tua.

Dalam pendidikan spiritual, juga mencakup mendidik anak berakhlak mulia, mengerti agama, bergaul dengan teman-temannya, dan menyayangi sesama saudaranya, menjadi tanggung jawab orang tuanya. Sebab, memberikan pelajaran agama sejak dini merupakan kewajiban orang tua ke anaknya dan merupakan hak untuk anak atas orang tuanya. Jika orang tuanya tidak menjalankan kewajiban ini, berarti menyia-nyiakan hak anak. Rasulullah SAW bersabda: ’’Setiap bayi lahir dalam keadaan fitrah (bertauhid). Ibu bapaknya lah yang menjadikan Yahudi, Nasrani, atau Majusi’’. (HR Bukhari dan Muslim)

Membaca sejarah dunia, maka kita tidak akan lupa membicarakan Thomas Alva Edison. Salah satu penemuan terbesarnya yang mengubah sejarah dunia adalah penemuan lampu pijar yang membuat dunia yang gelap menjadi terang- benderang.

Thomas Alva Edison juga memberikan inspirasi bagi banyak orang mengenai ketekunan dan ketabahannya yang tidak pernah menyerah dalam menghadapi ribuan kali kegagalan dalam percobaannya untuk menciptakan lampu pijar. Karena karakternya yang pantang menyerah, maka Thomas Alva Edison berhasil menemukan ribuan penemuan lainnya dan memiliki 1.093 hak paten.

Banyak orang tidak tahu bahwa dibalik keberhasilan seorang Thomas Alva Edison menjadi penemu terbesar dunia adalah karena jasa ibunya, Nancy Matthews Elliot. Ibunyalah yang berjasa merawat dan mendidik Thomas Alva Edison di rumah ketika ia masih kanak-kanak dikeluarkan dari sekolahnya setelah tiga bulan belajar.

Setelah menjadi terkenal di seluruh dunia dengan ribuan penemuannya, Thomas Alva Edison mengatakan “Ibukulah yang membuat saya seperti ini, ia sangat benar dan begitu yakin tentang saya dan itu membuat saya merasa memiliki sesuatu untuk hidup dan tidak ingin mengecewakannya”.

Untuk membuat anak-anak menjadi orang yang sukses seperti halnya Thomas Alva Edison, maka peranan seorang ibu amatlah besar. Bila ingin anaknya menjadi orang yang sukses, maka seorang ibu harus bisa merawat, mendidik dan menanamkan keyakinan yang kuat dalam diri anaknya untuk menjadi orang yang sukses.

Dari uraian di atas, jelaslah kunci keberhasilan seorang anak di kehidupannya sangat bergantung peran ibu dalam memotivasi dan mendorong agar dapat mencapai cita-citanya. Sikap ibu yang penuh dengan kasih sayang, memberi kesempatan pada anak untuk memperkaya pengalaman, menerima, menghargai, dan menjadi teladan yang positif bagi anaknya, akan besar pengaruhnya terhadap perkembangan pribadi anak. Jadi dapat dikatakan bagaimana gambaran anak akan dirinya ditentukan oleh interaksi yang dilakukan ibu dengan anak.


Interaksi yang dapat dilakukan yaitu dengan komunikasi timbal balik antara ibu dengan anaknya bil mau’idhati al-hasanah. Ibu dapat menerima anak sebagaimana adanya sehingga mengerti kekurangan maupun kelebihannya. Kemampuan seorang anak untuk mengerti kekurangan maupun kelebihannya akan merupakan dasar bagi keseimbangan mentalnya. Jadi, dengan mengenali dan memahami kekurangan dan kelebihan anak, seorang ibu justru dapat lebih mudah guna mengarahkan dan membina apa yang menjadi bakat serta cita-cita anak itu sendiri.

Terimakasih IBU... SELAMAT HARI IBU 22 DESEMBER 2016...

Komen Via Facebook

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites