Wednesday, November 8, 2017


Hadirin Jamaah Jum’at yang Berbahagia

Zaman sekarang ini adalah zaman dimana harta, kedudukan serta pujian dari manusia menjadi ukuran kemuliaan dan ketinggian seseorang dihadapan orang lain. Banyak orang yang mengatakan, orang hebat adalah orang yang terkenal dan namanya sering disebut di mana-mana. Orang sukses adalah orang yang punya kedudukan serta jabatan tinggi atau  mereka yang selalu bekecukupan harta dan hidup tanpa kesusahan. Begitulah kita banyak memaknai tentang kesuksesan dan kemuliaan. Padahal pemahaman seperti itu adalah pemahaman yang kurang benar.

Saya katakan pemahaman tersebut kurang benar, sebab pemahaman seperti itu juga tidak salah. Orang sukses adalah orang yang mempunyai kedudukan, harta, dan lain-lain. Iya benar,akan tetapi itu hanya kesuksesan yang bersifat duniawi. Karena manusia melewati perjalanan hidup tidak hanya di dunia saja. Oleh karena itu harus meraih kesuksesan ukhrowinya. Dan itulah kesuksesan, keberhasilan, kemuliaan yang sebenarnya. Akibat dari pemahaman yang kurang benar, yaitu mementingkan keberhasilan dan kemuliaan duniawi, sehingga banyak orang yang akhirnya beramal hanya demi mencari ridho dan kerelaan manusia, tanpa peduli lagi pada pahala dan balasan dari Allah. Asal pekerjaan itu disenangi dan dikagumi serta mulia di mata manusia, ajaran agama Allah sampai ditinggalkan. Akhirnya, muncullah golongan manusia yang beramal supaya dilihat dan dipuji oleh orang lain, atau beramal karena riya’. Mereka berbuat sesuatu agar bisa mendapat pujian dan perhatian manusia. Karena mereka menganggapnya sebagai upaya ‘mengejar kesuksesan’.

Pemahaman seperti itu bisa menipu manusia, sehingga lupa pada hakikat ketinggian dan kemuliaan yang sebenarnya, yakni ketaqwaan dan ketaatan kepada Allah. “Sesungguhnya yang paling mulia diantara kamu adalah yang paling bertaqwa (kepada Allah). Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui Mahateliti”. (QS al-Hujurat: 13)

Ketaqwaan dapat diperoleh dengan menjauhi larangan-larangan Allah dan menjalankan perintah-perintah Allah. Dan manusia banyak yang lupa, bahwa esensi dari penciptaan manusia di dunia ini adalah untuk beribadah ikhlas hanya kepada-Nya. Semua perbuatan kita, baik atau buruk, besar atau kecil pasti akan mendapatkan balasan yang setimpal. Bagi mereka yang beramal karena Allah, Allah sendirilah yang telah menjamin pahala dan balasannya. 

Rasululla Saw bersabda, “Barangsiapa yang mencari keridhaan Allah meskipun ia memperoleh kebencian dari manusia, maka Allah akan mencukupkan dia dari ketergantungan kepada manusia. Dan barangsiapa yang mencari keridhaan manusia dengan mendatangkan kemurkaan Allah, maka Allah akan menyerahkanya kepada manusia.” (HR Tirmidzi).

Imam Muhammad bin Abdurrahman al-Mubarakfuri mengatakan, “Maksudnya, Allah akan menjadikannya berada dibawah kuasa manusia, lalu mereka menyakiti dan menganiayanya.”

Ma’asyirol Muslimin Rahimakumullah

Penyakit haus pujian atau riya’ ini ternyata tidak hanya menyerang kalangan awam saja. Bahkan banyak penyakit riya’ menjangkiti justru orang-orang yang faham akan bahaya riya’ itu sendiri. Mereka yang ahli ibadah, para da’i dan mubaligh, thaalibul ilmi, serta para penghafal al-qur’an justru lebih berpotensi besar terjangkiti virus ini. Kuantitas amal shalih yang mereka kerjakan, ternyata membuat setan tergiur untuk mengggelincirkan kelompok ini, agar keikhlasan mereka pudar, dan ganti beramal untuk manusia, pujian, serta kedudukan. Seorang da’i akan di hasut setan agar berbuat riya’ memperbagus dakwahnya demi popularitas dan dikatakan sebagai ‘orator ulung’ atau ‘penguasa panggung’. Para penghafal Al-Qur’an akan diarahkan supaya beramal demi dianggap sebagai ‘orang yang dekat dengan Kitabullah’. Sedangkan setan akan menghasut para alim ulama agar mereka beramal supaya dielukan sebagai orang yang ‘fakih dan faham dalam masalah agama’. 

Dikisahkan ada seorang ‘alim yang selalu shalat di shaf paling depan. Suatu hari ia datang terlambat, maka ia mendapat shalat di shaf kedua. Di dalam benaknya terbersit rasa malu kepada para jama’ah lain yang melihatnya. Maka pada saat itulah, ia menyadari bahwa sebenarnya kesenangan dan ketenangan hatinya ketika shalat di shaf pertama pada hari-hari sebelumnya disebabkan karena ingin dilihat orang lain. Riya’ semacam ini diancam oleh Allah dalam Surat Al-Ma’un ayat 4-5 yang artinya, “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya, yang berbuat karena riya” (Al Maa’uun 4-6)

Riya’ adalah ibadahnya seseorang kepada Allah, akan tetapi ia melakukan dan membaguskannya supaya di lihat dan dipuji oleh orang lain, seperti dikatakan sebagai ahli ibadah, orang yang khusyu’ shalatnya, yang banyak berinfaq dan sebagainya. Intinya dia ingin agar apa yang dikerjakan mendapat pujian dan keridhoan manusia. Rasulullah menyebut riya’ dengan “syirik kecil”, sehingga bahayanya tak bisa dianggap sebelah mata.

Apalagi pada zaman sekarang, dengan dukungan media sosial sehingga budaya selfie dan narsis muncul dan memudahkan orang untuk berbuat riya’ dengan amalnya. Seperti ketika melakukan santunan, ia foto dan kemudian diposting di media sosial. Ketika ia berbuka puasa, ia membuat status  dengan menyebut menu buka puasa supaya dipuji orang ia ahli puasa, ketika bangun malam selesai tahajud ia juga membuat status selesai tahajud agar dipuji oleh orang lain sebagai orang yang ahli qiyamul lail, dan sebagainya. Riya’ itu sesuatu yang lembut ibarat semut hitam diatas batu hitam dalam kegelapan malam. Benar-benar kehadirannya dalam hati kita tidak terasa dan kentara.

Riya’ dibagi kedalam dua tingkatan:
1.      Riya’ kholish yaitu melakukan ibadah semata-mata hanya untuk mendapatkan pujian dari manusia,
2.      Riya’ syirik yaitu melakukan perbuatan karena niat menjalankan perintah Allah, dan juga karena untuk mendapatkan pujian dari manusia, dan keduanya bercampur.

Riya’ bisa muncul didalam diri seseorang pada saat setelah atau sebelum suatu ibadah selesai dilakukan.

Perbuatan riya bila dilihat dari sisi amal/citra yang ditonjolkan menurut Imam Al-Ghazali dapat dibagi atas 5 kategori, yaitu:
1.      Riya’ dalam masalah agama dengan penampilan jasmani, misalnya memperlihatkan badan yang kurus dan pucat agar disangka banyak puasa dan sering melakukan shalat tahajud.
2.      Riya’ dalam penampilan tubuh dan pakaian, misalnya memakai baju koko agar disangka shaleh atau memperlihatkan tanda hitam di dahi agar disangka rajin sholat.
3.      Riya’ dalam perkataan, misalnya orang yang selalu bicara keagamaan agar disangka ahli agama.
4.      Riya’ dalam perbuatan, misalnya orang yang sengaja memperbanyak shalat sunnah di hadapan orang banyak agar disangka orang sholeh. Atau seseorang yang pergi berhaji/umroh untuk memperbaiki citranya di masyarakat.
5.      Riya’ dalam persahabatan, misalnya orang yang sengaja mengikuti ustadz ke manapun beliau pergi agar disangka ia termasuk orang alim.

Hadirin Jamaah Jum’at yang berbahagia
Janganlah kita  membiarkan pahala ibadah-ibadah yang telah sulit kita kumpulkan hilang tanpa arti dan berbuah keburukkan lantaran masih ada riya di hati kita. Imam an-Nawawi dalam kitab Riyadush Shalihin, dalam bab Tahriimur Riya’ (pengharaman riya’) menyebutkan sebuah hadist yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah. Dalam hadist tersebut Rasulullah bersabda tentang tiga orang yang pertama kali di hisab pada hari kiamat. Mereka adalah orang yang mati syahid dalam pertempuran, seseorang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya, serta orang yang selalu berinfaq di jalan Allah. Setelah mereka dipanggil, maka ditunjukkan kepada mereka kenikmatan dan pahala yang banyak karena amal shalih yang telah mereka kerjakan. Namun ternyata pahala mereka musnah, dan ketiganya justru menjadi penghuni neraka, karena ternyata amal kebaikan yang mereka kerjakan di dunia hanya bertujuan mendapatkan pengakuan dan pujian dari manusia. Mereka menjual pahala dan kenikmatan akhirat demi manisnya ucapan dan indahnya pandangan orang lain. Na’udzu billahi min dzalik.

Hal ini sesuai dengan Firman Allah::
قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِاْلأَخْسَرِينَ أَعْمَالاً الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا
Artinya: “Katakanlah: ‘Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya’. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedang mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” [Al Kahfi : 103-104]

Bagaimana cara kita menjauhi virus yang satu ini? Solusinya adalah dengan berusaha untuk ikhlas di setiap amal yang kita kerjakan dan selalu berupaya menjaganya. Karena setan tak akan pernah menyerah untuk memberikan bisikan-bisikannya demi menggoyahkan dan merusak keikhlasan seseorang. Agar manusia menjadi budak sesamanya, beramal untuk kepuasan semu, serta mencampuradukkan tujuan hakiki amal shalih dengan tujuan bathil.

Masalah ikhlas merupakan masalah yang sulit, sehingga sedikit sekali perbuatan yang dikatakan murni ikhlas karena Allah. Dan sedikit sekali orang yang memperhatikannya, kecuali orang yang mendapatkan taufiq (pertolongan dan kemudahan) dari Allah. Adapun orang yang lalai dalam masalah ikhlas ini, ia akan senantiasa melihat pada nilai kebaikan yang pernah dilakukannya, padahal pada hari kiamat kelak, perbuatannya itu justru menjadi keburukan. Merekalah yang dimaksudkan oleh firman Allah Subhanahu wa Ta'ala : 

وَبَدَا لَهُم مِّنَ اللهِ مَالَمْ يَكُونُوا يَحْتَسِبُونَ وَبَدَا لَهُمْ سَيِّئَاتُ مَاكَسَبُوا وَحَاقَ بِهِم مَّاكَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِءُونَ
Artinya “Dan jelaslah bagi mereka adzab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan.Dan jelaslah bagi mereka akibat buruk dari apa yang telah mereka perbuat …” [Az Zumar : 47-48]

Sulitnya mewujudkan ikhlas, dikarenakan hati manusia selalu berbolak-balik. Setan selalu menggoda, menghiasi dan memberikan perasaan was-was ke dalam hati manusia, serta adanya dorongan hawa nafsu yang selalu menyuruh berbuat jelek. Karena itu kita diperintahkan untuk berlindung dari godaan setan. Allah berfirman, yang artinya : Dan jika kamu ditimpa suatu godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [Al A’raf : 200].

Hadirin Jamaah Jum’at yang berbahagia,
Semoga Allah senantiasa melindungi kita dari godaan setan yang selalu membisiki keburukan di hati kita.

Saturday, October 21, 2017

SANTRI jika ditulis dengan huruf Arab pegon maka akan ada 5 huruf. Yaitu, SIN, NUN, TA’, RO’ dan YA’. Huruf ini bisa mendefinisikan makna santri secara umum. Yaitu huruf SIN yang berarti SALIKUN ILAL-AKHIROH  سالك الى الآخرة Artinya santri harus menuju pada jalan akhirat. Hal ini bisa kita fahami bahwa bukan hanya orang yang berada dipesantren saja yang harus menuju pada jalan akherat. Tapi, semua umat Islam tujuan hidupnya adalah untuk kehidupan akherat dan mempersiapkan bekal untuk menuju kesana.
Kemudian huruf NUN berarti نائب عن المشايخ Naaibul ‘anil masyayikh. Generasi pengganti para guru (ulama). Ini bisa diartikan bahwa kita harus bisa menjadi generasi penerus dari para pejuang yang telah memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini. Bukan sebaliknya, kita menjadi penerus penjajah atau para pengkhianat bangsa ini.
Selanjutnya huruf TA’ berarti taarikun ‘anil ma’ashi تارك عن المعاشى seorang disebut santri harus bisa menjauhkan diri dari perbuatan maksiat.
Kemudian huruf RO’ berarti roghibun fil khoirot راغب فى الخيرات senang melakukan kebaikan. Seorang bisa disebut santri apabila ia suka melakukan kebaikan. Dan tanda ia suka melakukan kebaikan adalah dengan bersegera dalam melakukan kebaikan.
Selanjutnya adalah huruf YA’ yang berarti يرجو السلامة في الدين والدنيا واللآخرة (yarju as-salamata fiddini waddunya wal akhirah). Disebut santri apabila ia selalu mengharapkan keselamatan didalam agama, dunia dan akherat.
SELAMAT HARI SANTRI NASIONAL 2017

Sunday, October 1, 2017

SARASEHAN DAN NGOPI BARENG ASATIDZ MADRASAH DINIYAH

tema "Managemen dan Metode Pembelajaran Madrasah Diniyah dalam Membentuk Pendidikan Karakter"

Narasumber
1. KH. Ahmad Riyadh Mushoffa, S.Ag (Rois Syuriah PCNU kab. Sragen)
2. Dr. Rustam Ibrahim, M.Si (Pembantu Rektor II Universitas Nahdhotul Ulama Surakarta)

Waktu : Sabtu, 7 Oktober 2017
Pukul: 19.30 WIB
(Jamaah isya' di masjid pondok)

Tempat: Madrasah Diniyah Raudhotut Tholibin PP. Zumrotuttholibien Kacangan

NB =
- Permadin dpt mengirim maksimal 3 ustadz/ustadzah
- Permadin kontribusi Rp. 25.000
(snack,fotokopi materi,sertifikat)


Thursday, September 14, 2017

Pada zaman yang semakin modern dan perkembangan teknologi semakin cepat ini kita harus bisa menggunakan teknologi dengan sebaik-baiknya dan bermanfaat untuk diri sendiri maupun orang lain. Bukan sebaliknya, menggunakan kemajuan teknologi untuk berbuat kemaksiatan, menyakiti atau memusuhi orang lain. Teknologi ibarat pisau. Apabila ia dipegang orang yang benar, pisau akan bermanfaat. Sebaliknya, jika pisau dipegang orang yang salah atau bermasalah, pisau akan disalahgunakan untuk melukai atau bahkan membunuh. Begitu juga teknologi.

Diantara  kemajuan teknologi adalah adanya media sosial yang peminatnya semakin menjamur seperti facebook, twitter, instagram, juga aplikasi chatting dari handphone seperti BBM, whatsapp, telegram dan lain sebagainya. Jika kemajuan teknologi tersebut bisa digunakan dengan benar maka akan memudahkan orang saling silaturahmi, tegur sapa tanpa mengenal jarak dan waktu. Akan tetapi, kemajuan media sosial tersebut bisa juga disalahgunakan dengan membuat teror, menghujat, membenci, menebar berita bohong (hoax) maupun memfitnah.

Akhir-akhir ini, kita banyak menerima informasi dari media sosial yang belum jelas kebenarannya. Kita harus hati-hati mensikapi hal tersebut. Karena informasi yang belum jelas benar atau tidaknya bisa berujung pada fitnah. Na’udzubillah min dzalik.

Hoax (dibaca : Hoks) berasal dari bahasa Inggris yang artinya tipuan, menipu, berita bohong, berita palsu dan kabar burung. Jadi, hoax dapat diartikan sebagai ketidakbenaran suatu informasi. Menurut Wikipedia, Hoax merupakan sebuah pemberitaan palsu yakni sebuah usaha untuk menipu atau mengakali pembaca dan pendengarnya agar mempercayai sesuatu. Biasanya seorang yang menyebarkan berita hoax secara sadar melakukan suatu kebohongan dan menyebarkan informasi yang tidak benar. Hal ini bertujuan menggiring opini dan kemudian membentuk persepsi terhadap suatu informasi.

Fitnah artinya mengabarkan kebohongan tentang aib orang atau sekelompok orang kepada orang lain dengan tujuan untuk menjatuhkan kehormatannya. Menuduh seseorang melakukan sesuatu yang buruk tanpa dasar dengan tujuan mencelakakan atau menjatuhkan kehormatannya merupakan akhlak yang buruk dalam Islam. Orang Islam harus berusaha menghindari perbuatan tersebut karena dalam agama Islam perbuatan fitnah digolongkan sebagai dosa besar yang sangat dibenci oleh Allah SWT. Betapa besar akibat yang ditimbulkan oleh fitnah hingga karena fitnah, orang bisa celaka bahkan bisa terjadi saling membunuh.

Dalam upaya mencegah perbuatan menyebarkan fitnah, lebih dulu perlu diketahui sumber fitnah itu sendiri. Fitnah itu dapat terjadi diantaranya karena hal-hal sebagai berikut :

a.      Penyakit hati seperti syirik, angkuh, dengki, dan kikir.
b.      Ucapan yang salah atau menyimpang dari yang sebenarnya.
c.      Kebodohan, sebagaimana hadits Nabi Muhammad SAW, yang artinya, "Bahwa fitnah itu juga dapat timbul karena kebodohan merajalela, ilmu telah tercabut, dan banyak kekacauan serta pembunuhan." (HR Bukhari dan Muslim)

Terhadap orang yang suka menyebar fitnah, kita sebaiknya melakukan hal-hal berikut :

a.      Jangan cepat-cepat percaya pada ucapan orang itu. Sebaiknya ucapan itu di cek kebenarannya (tabayun/klarifikasi).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang Fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS: Al-Hujurat: 6)
b.      Memberi nasihat dengan bijaksana bahwa menyebar fitnah itu termasuk perbuatan yang dibenci oleh Allah SWT dan fitnah itu termasuk dosa yang besar yang akan mendatangkan bencana, baik bagi yang memfitnah maupun yang difitnah.
c.      Jangan menyiarkan berita (fitnah) yang telah kita terima dari orang lain, karena kalau dilakukan berarti kita ikut melakukan fitnah yang dilarang oleh Allah dan berdosa.
d.      Jangan berprasangka buruk terhadap orang yang difitnah.

Lalu bagaimana sikap kita dalam menghadapi zaman penuh fitnah? Diantara sikap yang dapat menyelamatkan seorang muslim dari fitnah adalah memperbanyak amal sholeh. Sebagaimana yang telah diajarkan Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wa sallam-:
 
قَالَ رَسُولَ اللَّهِ : بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنْ الدُّنْيَا . رواه مسلم
Rasulullah bersabda, “ Bersegeralah kalian mengerjakan amal-amal shalih sebelum terjadi fitnah (bencana) yang menyerupai kepingan-kepingan malam yang gelap gulita, yaitu seseorang diwaktu pagi beriman tapi pada waktu sore ia telah kafir, atau pada waktu sore ia beriman dan pada pagi harinya ia telah kafir, ia rela menjual agamanya dengan secuil keuntungan dunia.” (Shahih Muslim, no 118)

Imam an-Nawawi berkata: “Maksud hadits di atas adalah Rasulullah rmenganjurkan kita agar segera beramal shalih sebelum kita tidak mampu melakukannya lagi dan sebelum kita dilalaikan oleh fitnah yang banyak dan menumpuk satu sama lain, seperti kegelapan malam yang gelap gulita dan saling tindih menindih.” (Kitab Syarah Shahih Muslim II/114-115)

Amal shalih yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah amal yang harus memenuhi dua kriteria yaitu ikhlash dan mutaba’ah (mengikuti contoh Rasulullah).

Fitnah yang diwanti-wanti oleh Rasulullah dalam hadits di atas tidak disebutkan secara khusus. Rasulullah menyebutkannya secara umum (nakirah). Maksudnya meliputi segala bentuk fitnah, baik itu fitnah syubhat (bencana akibat prinsip atau pemikiran yang menyimpang) maupun fitnah syahwat (bencana akibat mempertuhankan hawa nafsu).

Fitnah syubhat adalah setiap fitnah yang bersumber dari kebodohan, ketidakpahaman tentang al-Qur-an dan al-Hadits, sehingga maknanya salah dipahami dan ditafsirkan secara keliru. Sedangkan fitnah syahwat adalah fitnah yang muncul karena keinginan untuk mendapat kenikmatan duniawi berupa harta, kedudukan, kepemimpinan dan wanita. (Syarh Riyadhis Shalihin, di bab al-Mubadarah ilal Khairat, karya Syaikh al-’Utsaimin).

Al Imam Ibnu Qayim Al Jauziyyah rahimahullah berkata:
“Fitnah itu dua macam: fitnah syubhat dan fitnah syahwat. Fitnah syubhat lebih besar bahayanya dari yang kedua. Maka fitnah syubhat ini terjadi disebabkan lemahnya bashirah dan sedikitnya ilmu.”

Saking berbahayanya fitnah ini, Rasulullah menggambarkannya seperti malam yang gelap gulita. Dimana orang yang tertimpa fitnah ini akan merasa bingung, tidak tahu harus melangkah kemana. 

Syaikh al-Mubarakfuri berkata: “Sabda Rasulullah, ‘pada waktu sore ia telah kafir’, maknanya bisa menjadi kafir (keluar dari Islam) atau kufur nikmat (mengingkari kenikmatan) atau menyerupai orang kafir atau melakukan amalan orang-orang kafir.” al-Hasan al-Bashri menafsirkan, “maksudnya: pada pagi hari ia mengharamkan apa yang diharamkan Allah dan pada sore harinya ia menghalalkan hal tersebut.” (Tuhfatul Ahwadzi:6/364).

Bagaimana hal ini bisa terjadi? Karena, ambisi manusia untuk memperoleh dunia. Sehingga dengan cara apapun ia lakukan. Termasuk dengan menjual agama(nya).

Rasulullah menjelaskan:
يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنْ الدُّنْيَا

Ia rela menjual agamanya dengan secuil keuntungan duniawi.”

Oleh karena itu, salah satu upaya kita agar selamat dari fitnah adalah dengan amal shalih. Amal shalih adalah melakukan pekerjaan baik yang bermanfaat bagi diri sendiri dan bagi orang lain serta ikhlas karena Allah Swt semata. Amal shalih termasuk perintah Allah karena dengan beramal shalih maka akan tercipta kehidupan yang tentram dan bahagia. Amal shalih adalah perbuatan atau sikap yang harus dimiliki oleh setiap muslim sebab orang yang beramal shalih akan menjadi penghuni surga serta kekal didalamnya. Sebagaimana firman Allah :

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
Artinya : “Dan orang-orang yang beriman serta beramal shalih, mereka itu penghuni surga. Mereka kekal di dalamnya”. (QS Al-Baqarah : 82)

Selain dengan amal shalih sikap kita agar selamat dari fitnah adalah memperdalam ilmu agama, membentengi diri dengan iman, memperbanyak doa dan bersabar, tabayun (klarifikasi) dalam menerima berita/informasi, juga mendekati ulama. 

Jika fitnah diibaratkan oleh Nabi seperti kegelapan malam, maka ulama ibarat lentera-lentera tatkala manusia dalam kegelapan. Barang siapa yang mengambil pelita ini niscaya akan dapat menerangi dirinya dalam menempuh perjalanan menuju negeri akhirat. Sebaliknya yang menjauh dari mereka bagaikan si buta yang berjalan terseok-seok dalam kegelapan malam tanpa pemandu, di jalan yang terjal dan berbatu.

Lalu, ulama yang bagaimana yang harus kita ikuti? Apalagi pada zaman sekarang bermunculan orang yang berpenampilan ulama tetapi perilaku maupun mauidhohnya tidak sesuai dengan sifat ulama. 

Dalam sebuah hadits Nabi SAW yang dikutip oleh Imam Ghozali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin. Rasulullah SAW bersabda:

لاَ تَجْلِسُوْا عِنْدَ كُلِّ عَالِمٍ إِلاَّ عَالِمٍ يَدْعُوْكُمْ مِنَ اْلخَمْسِ إِلَى اْلخَمْسِ، مِنَ الشَّكِّ إِلَى اْليَقِيْنِ، وَمِنَ اْلكِبْرِ إِلَى التَّوَاضُعِ، وَمِنَ اْلعَدَاوَةِ إِلىَ النَّصِيْحَةِ، وَمِنَ الِّريَاءِ إِلَى اْلِإخْلَاصِ، وَمِنَ الَّرغْبَةِ إِلَى الزُّهْدِ

Artinya: "Janganlah kamu duduk (belajar) kepada setiap orang alim, kecuali orang alim yang mengajak kalian dari lima hal menuju lima hal yang lain: Pertama, dari keragu-raguan menuju keyakinan. Kedua, dari kesombongan menuju ketawadhu'an. Ketiga, dari permusuhan menuju perdamaian. Keempat, dari riya menuju ikhlas, dan kelima, dari ketamakan menuju zuhud (HR Ibnu 'Asyakir dari Jabir RA)

Selain itu, ulama yang baik adalah ulama yang perkataannya bisa menyejukkan dan mendamaikan sehingga ketika umat mendatangi beliau, segala masalah bisa selesai dengan baik. Seperti yang disampaikan oleh Ibnu Al-Qayyim mendatangi gurunya, Ibnu Taimiyah.

وكنا إذا إشتد بنا الخوف وساءت منا الظنون وضاقت بنا الأرض أتيناه فما هو إلا أن نراه ونسمع كلامه فيذهب ذلك كله عنا

Artinya: “Jika kami dalam kondisi takut yang sangat mencemaskan, dengan berbagai prasangka buruk dan dunia menjadi sempit, kami segera mendatangi beliau (IbnuTaimiyah) baru saja melihatnya dan mendengarkan perkataannya, seketika hilanglah segala beban dan derita yang kami rasakan.



Wednesday, August 23, 2017

✏ Allah berfirman, " Demi fajar, dan malam yang sepuluh, dan yang genap dan yang ganjil, dan malam bila berlalu. Pada yang demikian itu terdapat sumpah (yang dapat diterima) oleh orang-orang yang berakal." (QS. Al-Fajr 1-5)
Ibnu Abbas berpendapat bahwa yang dimaksud dengan "al-fajr" adalah shalat Subuh, dan "malam yang sepuluh" adalah tanggal satu sampai sepuluh Dzulhijjah, dan "yang genap" adalah segenap makhluk, dan "yang ganjil" adalah Allah dan "malam yang berlalu" adalah bila ia telah lewat, "pada demikian itu terdapat sumpah oleh orang-orang yang berakal", artinya, hal itu merupakan sumpah bagi orang yang mempunyai hati dan akal. Jawaban untuk sumpah ini adalah firman-Nya, "Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi."

✏ Muqotil berpendapat, yang dimaksud dengan fajar adalah pagi hari nahar (tanggal sepuluh Dzulhijjah) "dan malam yang sepuluh" adalah sepuluh malam sebelum hari raya idul Adha. Allah menamainya "layal 'asyr" (malam yang sepuluh) karena terdiri dari sembilan hari sepuluh malam. Sedang yang dimaksud dengan "yang genap" adalah Adam dan Hawa, "dan yang ganjil" adalah Allah Swt. "dan malam bila berlalu" maksudnya bila datang waktu malam, yakni malam Idul Adha.

✏ Mujahid berpendapat, bahwa yang dimaksud dengan "fajr" dalam ayat ini adalah khusus pada hari raya kurban saja. Sementara Jarir bin Abdillah meriwayatkan bahwa Nabi bersabda, " Malam yang sepuluh adalah tanggal sepuluh hari raya Idul Adha". Dalam salah satu riwayat yang lain dari Ibnu Abbas dikatakan bahwa yang dimaksud "malam yang sepuluh" adalah sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.

✏ Dalam ayat ini Allah bersumpah dengan malam sepuluh Dzulhijjah. Ada apa dengan sepuluh Dzulhijjah? Insya Allah kita bahas besok.

📠Tim Ngaji Bareng Kang Iwan 📚
facebook = http://www.facebook.com/ngajibarengkangiwan
website= http://www.iwanhafidz.com


Tuesday, August 22, 2017

 Masuknya manusia ke neraka disebabkan oleh kekufurannya, sedangkan siksaan yang berlipat ganda dan perbedaan tingkatan neraka yang ditempatinya berdasarkan pada akhlak dan perbuatan buruk yang dilakukannya. Sedangkan masuknya manusia ke syurga disebabkan oleh keimanannya, dan kenikmatan yang berlipat ganda serta perbedaan tingkatan syurga yang ditempatinya didasarkan pada akhlak dan amal baik yang dilakukannya.

 Allah menciptakan syurga lalu memenuhinya dengan berbagai kenikmatan yang tiada tara sebagai balasan bagi para penghuninya. Sedangkan Dia menciptakan neraka, lalu memenuhinya dengan siksaan yang tiada tara beratnya sebagai balasan bagi para penghuninya.

Sementara itu, Allah menciptakan dunia, lalu mengisinya dengan kenikmatan dan penderitaan adalah sebagai bentuk ujian dan cobaan bagi hamba-hamba-Nya. Kenikmatan dunia dan kelezatannya merupakan gambaran kecil tentang kenikmatan syurga dan kelezatannya. Bedanya, kenikmatan dan kebahagiaan di akherat tiada tara, tidak pernah terlihat oleh mata, terdengar oleh telinga, atau terlintas dalam pikiran manusia.

Kenikmatan di akherat yang kita baca dalam al-Qur'an dan hadits hanyalah sebuah ilustrasi yang sangat terbatas, bukan gambaran sesungguhnya tentang keadaan yang menyeluruh. Begitu pula halnya dengan penderitaan dan siksa di dunia. Ini juga hanya sebagai contoh semata. Sebab penderitaan dan siksaan di neraka jauh lebih berat dari yang ada di dunia, dan kita semua tidak mungkin bisa membayangkan beratnya siksaan di neraka.

www.iwanhafidz.com

There was an error in this gadget

Followers

Total Pageviews

KOMEN

H. Iwan Hafidz Zaini, S.HI

Berfikirlah..
Terhadap jawaban yang kita temukan itu RAGUKANLAH..Dan berfikirlah seluas-luasnya...
Kebenaran tidak akan pernah merendahkan atau menghinakan orang yang mencapainya. Namun justru mengagungkan dan menghormatinya...

Sukai Halaman ini

Beli Buku Online

Toko Buku Online Belbuk.com

Tweet

Popular Posts

Komen Via FB